Wiwin (51) nama samaran mengaku, kriteria lelaki pilihan hidupnya sederhana. Tak perlu tampan, tak perlu kaya, asal bisa bikin bahagia, sudah merasa sempurna hidup di dunia. Hal itu tentu membuat Cuprit (55) bukan nama sebenarnya, semakin dibuai asmara.
Sekian lama berumah tangga bahkan sampai memiliki buah hati tercinta, nyatanya tak bisa menjamin kepercayaan satu sama lain. Bagai pepatah lama dikasih hati minta ampela, rumah tangga Wiwin dan Cuprit sempat diterjang masalah.
“Saya enggak nyangka dia bisa begitu ke keluarga saya. Peristiwa itu terjadi ketika saya berusia 32 tahun dan Kang Cuprit 36 tahun,” katanya kepada Radar Banten.
Seperti diceritakan Wiwin, Cuprit yang dikenalnya tak lama sebelum putus dengan sang mantan, memang terkenal ramah dan humoris. Memiliki banyak teman mulai dari yang seusia sampai jauh di atasnya, Cuprit kerap menjadi pusat perhatian ketika tengah berkumpul bersama masyarakat kampung.
Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja dan ibu penjahit rumahan, Cuprit memiliki masa muda penuh warna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Meski begitu, katanya, kalau untuk kesetiaan, Wiwin bisa menjaminnya.
Wiwin sendiri bukan perempuan biasa. Terlahir dari keluarga berada, ditambah status sang ayah sebagai tokoh masyarakat, sosok Wiwin yang manis dan menarik, membuat orang-orang menaruh hormat padanya. Tidak sembarang melayangkan rayuan gombal, para lelaki di kampung mengagumi secara diam-diam.
Memiliki tubuh ideal dengan kulit nan putih, tak membuat Wiwin sombong kepada para pemuda kampung. Kerap menebar senyum dengan sapaan hangat, Wiwin menjadi wanita incaran banyak pria. Katanya, dulu sampai ada yang kirim-kirim surat ke rumah. Widih, romantis amat ya.
Sampai usia beranjak dewasa, Wiwin sempat mengalami peristiwa menyedihkan saat menuju pelaminan. Ketika kedua keluarga sudah saling sepakat menuju tanggal pernikahan, kejadian yang tak diinginkan semua calon pengantin terjadi padanya. Sang calon suami membatalkan pernikahan secara sepihak. Parahnya, ia melakukan hal itu karena tak jelas.
“Ya waktu itu sebenarnya saya sudah curiga dari awal, dia kayak enggak semangat gitu. Dan ternyata bener, pas deket-deket ke hari H dan undangan sudah disebar, main ngebatalin gitu saja,” curhat Wiwin mengenang masa lalu.
Namun kesedihan itu tak berlangsung lama. Sebulan setelah peristiwa batal nikah, Cuprit datang menawarkan kebahagiaan. Ditemani ayah serta paman yang ternyata kenal dekat dengan ayah Wiwin, Cuprit percaya diri melamar sang wanita idaman.
Meski awalnya sempat ragu, namun Wiwin tak bisa berbuat banyak lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Tapi, seolah belajar dari pengalaman, Wiwin tak ingin buru-buru ke pelaminan. Menjalani masa pacaran sampai setahun lamanya, ia dan sang kekasih saling menguji ketulusan cinta.
Hingga merasa sudah sama-sama siap. Maka tak menunggu waktu lama, pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Wiwin dan Cuprit resmi menjadi sepasang suami istri.
Di awal pernikahan, tidak seperti pasangan baru pada umumnya, Cuprit tampak tak begitu canggung kepada keluarga sang istri. Santai dan banyak bicara, Cuprit pandai mencuri hati. Berbaur dengan ayah mertua sampai ke pembantu rumah tangga, Cuprit menunjukkan sosok hangat dan ramah.
Tapi yang namanya rumah tangga, pasti tak lepas dari urusan ekonomi. Nah, di sinilah Cuprit tak berdaya untuk memberi nafkah lebih bagi istri. Bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta di Kota Serang, Cuprit berjuang meraih kebahagiaan.
Tak seperti wanita kebanyakan, Wiwin yang biasa hidup sederhana meski punya harta, bersikap santai dengan ekonomi rumah tangga yang sulit. Terus memberi semangat pada suami untuk meningkatkan kualitas hidup, rumah tangga mereka berjalan mesra. Sampai akhirnya, orangtualah yang menjadi tumpuan keuangan.
“Ya sebenarnya kan tujuan saya nikah memang enggak nuntut banget harus sejahtera. Asalkan Kang Cuprit bisa bikin saya bahagia, semua sudah cukup,” aku Wiwin.
Singkat cerita, setelah punya anak pertama, mungkin karena tak tega, orangtua Wiwin membelikan rumah. Berharap sang anak bisa hidup mandiri dan semakin merasakan nikmatnya hidup berumah tangga, mereka memberikan segalanya untuk sang anak tercinta.
Setahun berjalan semua tampak lancar. Namun apa mau dikata, mungkin karena terbuai dengan fasilitas yang ada, semakin diperhatikan orangtua bukannya berpikir maju, justru malah membuat Cuprit keenakan dan malah banyak menyia-nyiakan waktu. Terjebak dengan lingkungan di rumah baru, setiap malam ia sering mabuk-mabukan dengan pemuda setempat. Oalah, kok bisa begitu Teh?
“Saya sudah melarang, Kang. Tapi dia alasannya kalau enggak ikutan, nanti enggak gaul sama pemuda sekampung. Kan kita orang baru. Ya sudah saya enggak bisa melarang lagi,” curhat Wiwin.
Apalah daya, kebiasaan buruk sang suami tak terbendung. Sering meminta uang pada istri, Cuprit seolah tak lagi mengenal kata malu. Apapun dilakukan demi bisa memuaskan hasrat bersenang-senang bersama kawan-kawan.
Hingga suatu malam, Wiwin ditelepon untuk segera pulang ke rumah. Bersama sang suami, ia melesat menembus jalan perkampungan. Sesampainya di rumah, Wiwin kaget lantaran sang ayah terbaring lemas tak berdaya. Saat itu juga, dengan mobil pribadi, seluruh keluarga berangkat ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Cuprit diminta kembali ke rumah untuk membawa pakaian dan surat-surat persyaratan dari rumah sakit karena sang ayah harus dirawat. Parahnya, bukannya melaksanakan tugas, Cuprit pergi entah ke mana, melupakan mertua yang sedang sekarat. Akhirnya, di sepertiga malam, Wiwinlah yang mengambil semua persayaratan di rumah
Kesokan harinya, Cuprit belum menunjukkan batang hidup. Ditelepon tak diangkat, di SMS pun tak dibalas. Hingga seminggu sang ayah dirawat, Wiwin tak tahu di mana keberadaan suaminya. Sampai sang ayah dibawa pulang, di tengah perjalanan, di jalan tak jauh dari rumah, Wiwin dan keluarga melihat Cuprit jalan sempoyongan.
Dari dalam mobil, mereka mencemooh Cuprit habis-habisan. Apalah daya bagi Wiwin, hanya bisa menutup wajah dipenuhi linangan air mata, ia tak mampu menahan malu kepada keluarga. Saat kondisi sang ayah yang baru pulih dari sakitnya, Cuprit justru membuat ulah. Keesokan harinya, Wiwin mengamuk kepada sang suami. Seminggu kemudian, karena emosi, perceraian jadi akhir dari perjalanan rumah tangga.
Ya ampun, sabar ya Teh Wiwin. Semoga Kang Cuprit taubat dan Teh Wiwin dapat pengganti yang lebih baik. Amin. (daru-zetizen/zee)








