Entah karena bosan atau mungkin tak lagi cinta, keberadaan sang buah hati tak mampu menjadi benteng bagi Wati (28) menahan emosi saat diterjang masalah bersama sang suami, sebut saja Jujun (29). Berjalan dua tahun usia pernikahan, bukannya semakin kuat malah jadi penuh karat.
“Saya enggak nyangka bisa ngalamin hal rumit ini sama dia. Ini bener-bener bikin saya drop, enggak kuat, Kang. Kejadiannya pas saya usia 23 tahun dan Wati 22 tahun!” curhat Jujun kepada Radar Banten.
Padahal, seperti diceritakan Jujun, hubungan asmara dengan Wati sudah terjalin sejak SMP. Mereka bertemu ketika masih sama-sama bau kencur. Belum mengerti arti cinta sesungguhnya, bahkan pacaran pun masih dalam tahap senang-senang saja.
Hebatnya, waktu itu mereka mampu bertahan tiga tahun lamanya. Di tengah godaan teman wanita yang jauh lebih cantik dan lelaki tampan, baik Jujun maupun Wati mampu mempertahankan hubungan. Kisah asmara mereka menyita banyak perhatian.
Namun, yang namanya cinta di masa remaja, terkadang mereka saling bertengkar dan marah satu sama lain. Tapi ibarat magnet yang saling tarik-menarik, Jujun seolah tak rela Wati menghilang begitu saja. Setelah lulus SMA, ya mungkin sama-sama khilaf, Jujun tak ingin menceritakan detail bagaimana peristiwa itu terjadi. Yang jelas, ia dan Wati sudah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Astaga.
“Waktu itu saya benar-benar menyesal. Sudah bikin kecewa orangtua dan keluarga. Untungnya kakak tertua mau menemani, jadi saya datang tiba-tiba dan langsung melamar. Ya, meski persiapan seadanya, tapi alhamdulillah bisa terlaksana,” tuturnya.
Meski terkesan memaksakan, acara lamaran malam itu berjalan tanpa ada kendala. Setidaknya, ketakutan Jujun akan kehilangan sang kekasih tercinta bisa teratasi karena sudah ada ikatan. Tak lama berselang, hanya dalam waktu seminggu mereka menuju jenjang pernikahan.
Dengan pesta sederhana, hanya mengundang tetangga dan orang terdekat, hari bahagia itu menjadi hari bersejarah bagi Jujun dan Wati. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan usia yang sebenarnya terbilang muda, mereka siap membangun bahtera rumah tangga.
Di awal pernikahan, Jujun menjadi suami yang baik dan perhatian, baik kepada istri maupun mertua. Setiap gajian, pasti membawa makanan. Biasalah, hitung-hitung cari perhatian dan beradaptasi dengan lingkungan. Perlakuan serupa tak jauh berbeda dilakukan Wati kepada keluarga suami.
Senang mengirimi makanan ke rumah mertua, Wati juga mencoba beradaptasi agar mendapat kesan baik di mata keluarga. Hasilnya, baik Jujun maupun Wati sama-sama disayang mertua. Rumah tangga mereka berjalan sempurna, pokoknya, mereka hidup bahagia.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah bayi lelaki lucu kebanggaan pasangan muda itu. Hubungan dengan kedua keluarga pun semakin harmonis. Namun, terkadang kebahagiaan memang tak selaras dengan keabadian. Menginjak tahun kedua pernikahan, sikap Wati tak lagi harmonis saat awal berumah tangga. Lah, kok gitu Kang?
“Saya juga merasa aneh. Bukan cuma istri, tapi sikap keluarga dia juga beda. Setiap hari kayak mojokin gitu,” curhatnya.
Tak ada lagi tegur sapa, tak ada obrolan hangat menjelang senja. Keberadaan Jujun bagai patung yang tak bernyawa. Pokoknya, apa yang ia lakukan tak pernah dipandang baik istri dan keluarga. Sampai suatu ketika, selayaknya kepala keluarga, Jujun bertanya baik-baik pada Wati.
Dibawanya sang istri ke kamar dan berbicara empat mata. Saat itu, diketahuilah akar dari masalah yang terjadi. Katanya, Wati tersiksa ditekan orangtua dan keluarga besarnya karena rumah tangga mereka tak pernah bisa mandiri. Lagi-lagi, masalah ekonomi. Aih.
“Ya saya akui waktu itu memang saya enggak kerja. Atuh namanya juga hidup, kan enggak selamanya senang, saya juga terus berusaha cari kerjaan, tapi keluarga dia enggak mau ngertiin,” curhat Jujun.
Sampai suatu hari, mungkin tak tahan dengan sikap sang istri, Jujun dengan tegas kembali meminta pengertian sang istri. Tapi seolah lebih takut pada keluarga daripada suami, Wati membentak, keributan pun terjadi. Tak peduli pada keberadaan orangtua, Jujun berani adu mulut sambil berteriak.
Tak disangka, di puncak tingkat amarahnya, mungkin tak kuat menahan beban masalah yang begitu rumit di usia masih belia, Wati mengatakan sesuatu yang ditakuti setiap pasangan, perceraian. Saat itu juga, ia berhasil membungkam mulut Jujun yang tak henti berceloteh banyak hal. Wati keluar rumah, mendatangi bibinya dan memeluk erat sambil menangis histeris.
Parahnya, seolah tak ingin ikut campur pada masalah sang anak, ayah Wati cenderung diam dan tak peduli. Mungkin lantaran malu, ditambah perasaan yang tak dapat dikendalikan, Jujun pergi begitu saja, pulang ke rumah orangtua. Sejak saat itu, hubungan keduanya jauh dari kata mesra.
Sampai seminggu kemudian, tak disangka, Wati serius mengurus perceraian. Melewati proses persidangan yang cukup menguras tenaga, waktu, dan biaya. Mereka berpisah untuk selama-lamanya. Ya ampun, sabar ya, Kang!
“Sabar banget, Kang. Bahkan setelah dua bulan dia langsung nikah sama duda kaya juga saya mah sabar, sudah ikhlas,” tukas Jujun. Ya ampun kok bisa, Kang.
“Saya juga awalnya enggak nyangka, tapi kata orang-orang sih, keluarganya memang sudah merencanakan kalau anaknya bakal dinikahkan sama duda itu,” terang Jujun menutup perbincangan.
Ya ampun, semoga Kang Jujun diberi jodoh yang lebih baik ya, Kang. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)








