MASYARAKAT di Lingkungan Palas, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, menunjukkan dampak hebat dari gotong royong. Secara bersama, mereka menyulap lingkungan tempat tinggal mereka menjadi sebuah kampung wisata. Dan, usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menjadi identitas dari kampung wisata itu.
BAYU MULYANA – CILEGON
Kamis (25/1) pagi sekira pukul 07.30 WIB, warga RW 01 dan RW 02 Lingkungan Palas sudah berkumpul di luar rumah dengan berbagai macam peralatan. Ada sapu, pacul, kuas, plastik sampah ukuran besar, serta puluhan ember cat beraneka warna.
Pagi itu, seluruh warga sedang melakukan gotong royong mempercantik lingkungan tempat mereka tinggal. Itu bukan gotong royong pertama, melainkan kesekian kali. Itu bisa dilihat dari lingkungan yang sudah tertata rapi, bersih dengan aneka lukisan dan mural di pagar sejumlah tembok pagar.
Ada juga puluhan bola yang dicat warna warni menggantung, memayungi jalan. Selain itu, sebuah gapura besar telah berdiri, simpel, tapi tampak kokoh dan indah dengan tulisan di bagian atas ‘Kampoeng Wisata UMKM’.
Di gotong royong kesekian kali itu, warga mendapatkan bantuan tenaga dari PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) dan yang menjadi fokus pekerjaan adalah membersihkan lingkungan dari sampah serta menyemen sebagian bahu jalan lingkungan serta mengecat bahu jalan yang sudah ada dengan aneka warna cat.
Suasana itu menunjukkan warga Lingkungan Palas serius untuk berdaya secara bersama-sama dengan menyulap lingkungannya menjadi kampung wisata.
Aksi gotong royong warga itu berawal dari inisiasi Nurul Hadiyati, Kasi Pemerintahan dan Ketertiban Umum Kelurahan Bendungan. Inisiasi itu merupakan sebuah proyek perubahan. Inisiasi itu disambut baik oleh warga dan pada awal Oktober lalu warga mulai bergerak mewujudkan konsep kreatif tersebut.
“Program kampung wisata UMKM Lingkungan Palas ini adalah sebuah inovasi. Inovasi ini merupakan sebuah modifikasi dari kampung tematik seperti di kota-kota lain. Pernah dengar di Semarang ada kampung warna-warni atau di Malang juga ada dan ini modifikasinya. Hanya, ini lebih sebuah konsep bagaimana memasarkan UMKM,” tutur Nurul di sela-sela gotong royong.
Kata Nurul, Kampung Wisata UMKM itu sebuah pengembangan potensi wilayah. Sesuai dengan namanya, UMKM-lah yang menjadi potensi besar di lingkungan itu. Berdasarkan data, ada 75 UMKM di Lingkungan Palas, 48 di antaranya adalah perajin kasur dan busa, selebihnya bergerak di berbagai bidang seperti kuliner. Contoh produk kuliner yang diproduksi masyarakat adalah keripik dan gipang.
Masyarakat sudah cukup lama menggeluti usaha itu. Tapi, sayangnya terus stagnan, tidak mengalami perkembangan. Konsep kampung wisata ini menjadi sebuah pengharapan bagi masyarakat agar aktivitas entrepreneurship mereka bisa berkembang dan berdampak pada kekuatan ekonomi mereka.
Nurul mengaku bersyukur, masyarakat memiliki semangat yang sangat tinggi. Hal itu dilihat dari gotong royong dan semua hal dilakukan secara swadaya. Aneka hiasan, peta lokasi, dan segala macam yang membuat lingkungan itu rapi dan indah merupakan hasil kebersamaan masyarakat. “Kerajinan ini semua dari masyarakat,” ujar Nurul.
Kini, semangat masyarakat itu mendapatkan dukungan dari pihak luar, yaitu PT Krakatau Bandar Samudera (KBS). Kata Nurul, anak perusahaan PT Krakatau Steel itu membantu gapura dan gotong royong bersama masyarakat. Ada sekira 70 karyawan yang dikerahkan untuk bersama bergotong royong.
Menurut Nurul, program Kampung Wisata UMKM bukan hanya sekadar proyek perubahan guna mendukung potensi UMKM di Lingkungan Palas, tapi diharapkan menjadi stimulan bagi lingkungan lain untuk juga mengembangkan potensi wilayahnya. Nurul meyakini, setiap lingkungan memiliki potensi yang bisa dikembangkan.
Lurah Bendungan Maman Herman mengaku sangat bersyukur dan terima kasih kepada PT KBS dan donatur lainnya sehingga lingkungan menjadi bagus melalui pengecatan lingkungan, semenisasi, dan pembuatan gapura.
Sebagai unsur pemerintah, Kelurahan Bendungan terus berupaya menstimulasi, memotivasi dan mengarahkan masyarakat agar bisa mengembangkan usaha mereka dan bisa go public.
Maman meyakini produk masyarakat memiliki kualitas yang baik, itu terbukti dari tingginya minat terhadap produk-produk tersebut. “Saat Lebaran, makanan-makanan itu bisa habis terjual, bahkan kekurangan. Berarti suka. Nah, bagaimana 11 bulan selanjutnya bisa diproduksi dan dijual ke tamu-tamu yang datang ke sini, ekspansi ke luar,” tuturnya.
Sementara ini produk masyarakat baru terjual di sekitar Kota Cilegon saja dan dipasarkan di sejumlah pameran-pameran. Ia berharap dengan adanya kampung wisata, pasar masyarakat bisa menjadi lebih luas.
Dirut PT KBS Alugoro Mulyowahyudi ikut tergerak untuk mengalokasikan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaannya ke lingkungan itu karena menilai Kampung Wisata itu mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. “Kita membantu pembuatan gapura, pengecatan jalan, dan tenaga. Kami direksi dan karyawan kerja bakti untuk mengecat semua jalan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya kontribusi dari KBS banyak wisatawan yang datang berkunjung ke lingkungan itu sehingga berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat. (*)









