Tak selamanya kisah asmara yang berawal di media sosial berakhir di tengah jalan dan tak sampai ke pernikahan. Apa yang dialami Maul (47) dan Wenah (45), keduanya nama samaran, menjadi pengecualian. Berkenalan lewat Facebook, mereka sepakat menjalin hubungan sampai ke pelaminan.
Katanya, meski jarang bertemu karena jarak dan waktu, komunikasi berjalan lancar melalui chatting atau telepon. Meski baru bertemu sekali di acara suatu pusat perbelanjaan di Tangerang, chemistry antara mereka sudah terasa.
Teleponan setiap malam, baik Wenah maupun Maul sering menebar kata mesra. Ibarat sepasang merpati muda, mereka berada pada fase sayang tingkat dewa. Namun, di usia pernikahan yang baru seumur jagung, rumah tangga mereka mengalami goncangan yang cukup serius. Aih, kenapa nih, Kang?
“Kejadian itu terjadi saat saya usia 40 tahun dan Wenah 38 tahun. Kalau dibilang rumit sih, rumit banget ngejelasinnya, Kang,” keluh Maul kepada Radar Banten.
Maul anak terakhir dari tiga bersaudara. Lelaki yang tinggal di sebuah kampung di Kabupaten Serang itu, memiliki masa muda penuh warna. Terlahir dari keluarga berada, ayah bekerja di perusahaan ternama dan memiliki banyak tanah, apa yang diminta pasti terlaksana.
Tak hanya itu, ia juga dianugerahi wajah tampan rupawan. Berkulit sawo matang, dengan gaya anak muda metropolitan, Maul sukses menarik banyak hati perawan. Tapi lantaran memegang prinsip tak ingin berpacaran, apalagi menikah dengan wanita satu daerah, ia sering menolak cinta.
Lain Maul lain juga dengan Wenah, anak pertama dari empat bersaudara itu tidak seberuntung sang kekasih yang memiliki ekonomi mumpuni. Ayah petani dan ibu berkebun, Wenah memiliki tanggung jawab besar terhadap adik-adiknya.
Menjadi tulang punggung keluarga, tak heran jika Wenah mau melakukan apa pun demi mendapatkan nafkah. Mulai dari berjualan online saat masih sekolah, sampai bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan. Semua dilakukan penuh perjuangan.
Memiliki paras cantik dan lekuk tubuh yang menggoda, Wenah sebenarnya banyak menarik perhatian pria. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Maul, harapan hidup sejahtera pun muncul. Soalnya seperti diceritakan Maul, ia banyak memasang foto-foto bergaya ala orang kaya di Facebook-nya.
Bagai menemukan ksatria di tengah gelapnya malam, sikap Wenah terhadap Maul penuh perhatian. Ia seakan takut kehilangan lelaki yang sangat diharapkan menjadi suaminya ini. Hal itu pun dirasakan Maul, ia sendiri tidak melihat wanita dari harta, asalkan cantik dan sesuai kriteria, pasti langsung dijadikan pilihan menuju pelaminan.
“Waktu itu orangtua saya berniat mau menjodohkan dengan anak temannya. Apesnya, kabar perjodohan itu terdengar pacar saya, ngamuk deh dia jadinya,” terang Maul.
Sampai akhirnya, Maul menegaskan sikap atas apa yang ia rasakan terhadap sang wanita. Meski awalnya Wenah tak percaya, mungkin setelah melakukan perenungan dan introspeksi diri, mereka pun baikan kembali.
Wenah meminta kejelasan Maul. Lantaran menuntut keseriusan, ia meminta sang kekasih datang ke rumah. Di sanalah kesepakatan itu terjadi. Dengan keseriusan cinta yang sudah tertanam, mereka berencana menikah secepatnya. Apalah daya, lantaran kedua orangtua tak bisa memaksa kehendak Maul, pernikahan pun terjadi.
Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan kesepakatan bersama, Wenah bersedia tinggal bersama keluarga Maul di salah satu kampung di Kabupaten Pandeglang. Mencoba terus beradaptasi, ia diterima apa adanya oleh keluarga suami.
Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Keluarga Maul pun semakin menyayangi Wenah. Mereka hidup bahagia dengan ekonomi yang mumpuni. Hingga memasuki tahun kedua usia pernikahan, mereka tinggal di rumah pribadi.
Sejak saat itulah, mungkin merasa bebas dari pengawasan mertua, Wenah mulai menunjukkan sikap aslinya. Sering meminta dibelikan ini dan itu mulai dari perhiasan sampai barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, ia seenak hati menuntut suami. Aih, kok bisa begitu ya, Kang?
“Ya, sekali dua kali sih masih saya turutin, tapi kalau sudah keseringan, wah enggak kuat saya. Jangankan buat nabung, buat beli rokok saja kadang enggak ada,” curhat Maul.
Karena hal itu pula, menempati rumah pribadi bukannya makin mesra, malah seperti neraka. Keributan sering terjadi setiap hari. Parahnya, mungkin karena terganggu dengan kelakuan Maul dan Wenah, sang anak yang mulai tumbuh remaja sering kabur dan menginap di rumah teman.
Sekian tahun berlalu meski dengan ketegangan yang bisa muncul tak terduga, Maul masih bisa mengontrol keadaan. Tak ada lagi keharmonisan duduk berdua sambil berbicara mesra, hubungan mereka masih terbilang aman. Baik Maul maupun Wenah sama-sama menjaga perasaan.
Sampai suatu hari, ketika Maul baru pulang kerja, ia tak mendapati Wenah di rumah. Sang anak pun bermain entah di mana. Sambil melepas lelah, Maul duduk di sofa ruang tengah. Hingga malam datang, sang istri tak kunjung pulang. Ketika bertanya pada anaknya, katanya tadi Wenah dijemput pria dengan mobil. Aih, benar tuh, Kang?
“Kalau kata anak saya sih begitu. Pas saya tanya lagi, katanya enggak cuma saat itu, kemarin-kemarin juga sering,” katanya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, selepas isa, Wenah pulang membawa barang belanjaan. Tak mampu menahan amarah, Maul memarahi sang istri habis-habisan. Wenah menangis sesenggukan tak mampu melawan. Ketika ditanya, Wenah mengaku bahwa lelaki itu hanya teman. Namun, Maul tak percaya.
Wenah pulang ke rumah orangtua, sedangkan Maul menenangkan diri di kamar. Mereka sempat berpisah selama sebulan, tetapi akhirnya kembali bersama. Sejak saat itu bagai mendapat hidayah, Wenah menuruti kemauan suami dan tak pernah menuntut lagi. (daru-zetizen/dwi)










