SERANG – Tahun ajaran 2019/2020, seluruh sekolah harus menerapkan Kurikulum 2013. Namun, masih ada guru yang gagap dalam memberikan pelajaran kurikulum 2013. Dari sekira tiga ribu guru di Ibukota Provinsi Banten ini, masih ada sekira 10 persen yang belum memahami Kurikulum 2013. Melihat fenomena itu, PGRI Kota Serang menyelenggarakan pelatihan bagi para guru agar tak lagi gagap Kurikulum 2013.
Wakil Ketua I PGRI Kota Serang Bahraeni mengatakan, para guru harus meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya. “Salah satunya pelatihan Kurikulum 2013 itu,” ujar Bahraeni di sela-sela jalan sehat dalam rangka HUT ke-73 PGRI, HUT ke-47 Korpri, dan Hari Guru Nasional di Alun-alun Timur Kota Serang, Jumat (23/11).
Kata dia, pelatihan kurikulum dilakukan secara bertahap. Saat ini, hanya guru kelas III dan kelas VI yang belum mengikuti pelatihan. Namun, mereka akan segera diikutkan pelatihan agar dapat mengajar dengan Kurikulum 2013. Saat ini, sudah banyak juga sekolah yang menerapkan kurikulum 2013. Meskipun belum semua sekolah menerapkannya.
Bahraeni menerangkan, ada perbedaan antara Kurikulum 2006 dengan 2013. “Di Kurikulum 2006, pembelajarannya parsial. Sedangkan Kurikulum 2013 dikombinasikan dengan tematik,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Tingkat SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang.
Ia mengatakan, pelatihan kurikulum yang diselenggarakan PGRI itu juga bekerja sama dengan Dindikbud. Lantaran tak semua pelatihan dibiayai pemerintah pusat maka para guru membiayai secara mandiri. Biaya itu diambil dari tunjangan sertifikasi. “Karena tunjangan sertifikasi itu diwajibkan juga penggunaannya untuk meningkatkan kompetensi mereka selain meningkatkan perekonomian,” tuturnya.
Selain menggunakan tunjangan sertifikasi, Bahraeni juga mengaku pelatihan itu dapat menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Pelatihan yang dilaksanakan PGRI itu mendatangkan pelatih dari pemerintah pusat.
Bahraeni berharap, dengan adanya pelatihan kurikulum 2013 ini, kebijakan pemerintah pusat dapat diimplementasikan di daerah. Selain itu, para guru juga dapat memberikan pelajaran yang sesuai kepada anak didiknya. (Rostinah/RBG)








