Kisah rumah tangga Iyem (41) nama samaran, cukup memilukan. Lima tahun hidup bersama Cimeng (45), bukan nama sebenarnya, Iyem harus menerima kenyataan pahit dikhianati suami. Enggak heran, Cimeng kepincut janda kaya dan tega menceraikan Iyem. Ya salam.
Iyem yang ditemui Radar Banten di Pasar Dukuh, Kecamatan Ciruas, siang itu sibuk melayani pembeli. Mengenakan kaus polos hitam dan celana panjang dipadukan dengan kerudung abu-abu, Iyem terlihat cekatan memasukkan bahan-bahan sembako ke dalam plastik pesanan pembeli. Meski raut wajahnya kurang bersahabat saat itu, tetapi Iyem berkenan berbincang dengan Radar Banten dan menceritakan kisah rumah tangganya.
Aura kecantikan Iyem masih terlihat meskipun sekarang badannya sudah terlihat melebar. Iyem dibesarkan dari keluarga sederhana. Sejak kecil Iyem sudah belajar mandiri, sering ikut berjualan membantu usaha ibunya. Begitu pun Cimeng yang tak lebih dari orang biasa-biasa saja. Beruntung Cimeng memiliki wajah cukup rupawan. Cimeng orangnya pekerja keras yang membuat setiap wanita yang mengenalnya bisa langsung jatuh cinta.
Begitu pun Iyam yang tergoda untuk lebih dekat dengan Cimeng. Pertemuan Iyem dan Cimeng terjadi saat masih SMA di sebuah resepsi pernikahan temannya. Berawal dari saling pandang-pandangan berlanjut ke berkenalan hingga bertukar nomor telepon. Sejak itu mereka semakin intens berkomunikasi dan memutuskan untuk menjalin hubungan ke arah lebih serius. Setahun pendekatan, keduanya pun akhirnya resmi pacaran. Iyem tetap menikmati masa-masa pacaran bersama Cimeng meski Cimeng tak memiliki apa-apa. Termasuk motor yang sering dipakai Cimeng juga hasil pinjaman. “Ya, dulu lagi susah-susahnya. Walaupun cuman pinjem, yang penting bisa jalan-jalan sudah senang,” kenangnya.
Lulus SMA, Cimeng diterima bekerja di sebuah perusahaan. Merasa sudah mapan dengan pendapatannya bekerja di pabrik, Cimeng pun melamar Iyem. Tentu saja lamaran Cimeng diterima dan mereka pun berlanjut ke pelaminan untuk mengikat janji sehidup semati.
Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, Cimeng awalnya menunjukkan sosok kepala keluarga bertanggung jawab. Menyayangi Iyem sepenuh hati, bahkan memperhatikan mertua. Kehidupan rumah tangga mereka cukup harmonis. Setahun kemudian, lahir anak pertama yang semakin membuat mereka bahagia sampai lahirnya anak kedua tiga tahun kemudian.
Seiring berjalannya waktu, Cimeng promosi jabatan di tempat kerjanya. Sejak itulah Cimeng jemawa dan tidak dapat mengontrol diri. Sikap Cimeng semakin hari semakin berbeda. Banyak berubah. Cimeng sudah enggan memberi kecupan sayang kepada Iyem yang bisa dilakukannya ketika hendak berangkat kerja. Bahkan, tak jarang Cimeng pergi tanpa pamit pada istrinya. Sikap itu pun membuat Iyem gelisah. Kegelisahan Iyem semakin menjadi-jadi ketika Cimeng mulai sering pulang larut malam sepulang dari tempat kerjanya. Tentu saja Iyem curiga. Semua yang dilakukan Iyem sudah serbasalah di hadapan Cimeng. Iyem sudah seperti tidak dianggap istri sendiri. “Saya coba sabar. Tanya baik-baik, dia malah bentak. Ya, lama-lama curigalah,” tukasnya.
Hingga suatu hari, Iyem diam-diam mengambil ponsel Cimeng. Betapa kaget Iyem karena banyak SMS mesra di ponsel suami dengan wanita lain. Iyem yang tak mampu menahan amarah, mencoba menanyakan kebenarannya. Bukannya mendapat kata maaf, Iyem malah harus menerima bentakan dari suaminya.
Adu mulut pun terjadi antara Iyem dan Cimeng bahkan sampai lempar-lemparan perabotan rumah tangga bak Perang Dunia Kedua. Namun, Cimeng tetap pada pendiriannya tidak ingin disalahkan. Seolah paling benar. Hingga akhirnya pengkhianatan itu terbongkar. Iyem mengetahui kebejatan sang suami yang telah berselingkuh dengan janda kaya di desanya. Hingga Cimeng tega memaksa Iyem agar mau dimadu. Iyem menolak dan memilih pergi dari rumah mengajak kedua anaknya pindah ke rumah orangtua. Mereka memutuskan untuk bercerai. “Daripada dimadu, mending cerai saja. Mana enak dimadu,” ujarnya.
Beruntung, setahun kemudian Iyem menikah dengan duda pengusaha sembako. Iyem mengaku bahagia dengan suami barunya. Selamat ya Mbak Iyem. Semoga langgeng dengan suami barunya. Amin. (mg06/zai/dwi)









