Semakin tinggi karir semakin tinggi ego seseorang. Hal itu pula yang dirasakan Alung (46) pada kehidupan rumah tangganya bersama Meimei (44). Keretakan rumah tangga Alung bermula sejak istrinya mulai berkarir. Meimei yang menjalani bisnis butik, mulai melecehkan suaminya, Alung, yang kerjaannya belum jelas. Tak terima karena merasa diinjak-injak istri, akhirnya Alung memilih jalan cerai. Yassalam. .
Ditemui Radar Banten di wilayah Kecamatan Kopo, penampilan Alung siang itu terlihat stylish mengenakan kemeja biru dan celana hitam sambil menenggak air mineral di depan minimarket pinggir jalan. Sesekali Alung membuka ponsel dan menerima telepon. Setelah itu, Alung pun bercerita panjang lebar tentang kisah rumah tangganya. Penasaran dengan kisah Alung? Simak yuk ceritanya.
Kisah asmara mereka berawal pascalulus kuliah dan menjadi sarjana di salah satu kampus cukup ternama di Tangerang. Saat itu Alung bertemu dengan Meimei di kampus saat hendak mengambil ijazah yang dilegalisir. Pada pertemuan itu, mereka saling bertegur sapa. Merasa saling tertarik, mereka langsung bertukar nomor telepon. Sejak itu, keduanya semakin intens berkomunikasi hingga puncaknya menjalin hubungan.
Meimei terlahir dari keluarga berada, lain dengan Alung, hanya anak seorang pedagang yang masih merintis. Namun, kondisi ekonomi tak menghalangi mereka untuk menjalin kisah asmara. “Cinta itu kan buta Mas,” ujarnya. Ya Mas, buta ijo.
Diceritakan Alung, Meimei termasuk wanita idaman setiap pria. Maklum, selain kaya, Meimei juga di kampusnya cukup berprestasi. Meimei juga beruntung karena dianugerahi wajah cantik dan memiliki kulit yang cling. Jadi, wajar kalau Meimei cukup selektif memilih pasangan. Namun, dengan perjuangan Alung yang gigih meski tidak ditopang wajah yang tampan, mampu menaklukkan hati Meimei. “Ya dia biasa saja. Meskipun waktu dulu ke kampus dia pakai mobil, saya cuma naik angkot. Tapi, kita dekat,” kenangnya.
Suatu hari, Meimei yang tak kunjung dapat pekerjaan, mengajak Alung untuk berbisnis butik. Alung diminta sebagai pembuat desain untuk promosi. Sejak itu, hubungan mereka semakin dekat. Setelah setahun menjalani bisnis bersama, keduanya tak kuat menahan perasaan ingin menuju pelaminan dan membina rumah tangga. Bak gayung bersambut, lama mereka menjalin hubungan dan menuju ke arah lebih serius disambut orangtua masing-masing agar keduanya melangsungkan pernikahan.
Singkat cerita, mereka menikah dengan pesta resepsi yang cukup meriah. Di awal rumah tangga, mereka masih menjaga keharmonisan. Setahun berjalan, mereka dikaruniai anak pertama. Lengkap sudah kebahagiaan mereka. Alung bahkan menceritakan kemesraan mereka di ranjang selama membangun mahligai rumah tangga.
“Awal-awal nikah dia masih malu-malu. Pas habis lahiran, malah dia yang sering ngajak duluan, sampai bikin saya kewalahan,” akunya. Wah wah wah,,,capek dong, Mas!
Merasa punya tanggung jawab sebagai seorang ayah, Alung akhirnya memutuskan untuk keluar dari bisnis yang dijalani Meimei dan temannya, dan memilih mencari nafkah dengan memanfaatkan keahliannya pada bidang ilmu komunikasi desain gambar di perusahaan lain. Alung pun diterima sebagai freelance di sebuah perusahaan cukup ternama.
Namun, mereka masih tinggal di rumah pribadi yang disediakan keluarga Meimei. Hari demi hari berlalu, Meimei pun mulai disibukkan dengan bisnisnya yang semakin hari semakin kebanjiran order. Hal serupa juga dijalani Alung yang sibuk mengembangkan kemampuannya membuat desain untuk perusahaan properti.
Awal mula keretakan terjadi pada saat Meimei kedatangan teman-temannya yang berkunjung ke rumah dan melihat Alung yang sedang tertidur di sofa siang hari. Saat itu, Meimei dicemooh teman-temannya yang menganggap Alung tak lebih dari seorang pengangguran. Ocehan itu pun menghantui pikiran Meimei hingga melampiaskan kemarahannya kepada Alung. Merasa tak terima, Alung terbangun dari tidurnya dan memaki-maki tamu-tamu istrinya itu. Bukannya melerai, Meimei justru semakin tersulut emosi dengan sikap Alung dan balik memarahi dan mencemooh suaminya. Astaga.
“Padahal saya baru pulang kerja malam, lembur karena banyak orang luar negeri yang pesan logo perusahaan ke saya,” aku Alung.
Situasi semakin tidak terkendali ketika rekan-rekan Meimei pergi dan memutuskan untuk berhenti berbisnis dengannya. Saat itu, wajah Meimei memerah bak macan kelaparan meraung-raung dan memarahi Alung, keduanya bertengkar hebat. Merasa tak dihargai, Alung berbalik emosi. Keributan keduanya pun tak dapat dihindari. Merasa Meimei tidak mau kalah, Alung pun mengalah dan memilih pergi ke orangtuanya.
Setelah itu, Alung lama tak berkomunikasi dengan Meimei dan mulai bercerita kepada orangtuanya. Sampai akhirnya, kedua orangtua baik Alung maupun Meimei memusyawarahkan mereka. Merasa sikap Meimei tak berubah dan menyalahkan Alung sebagai penyebab keributan keduanya, Alung akhirnya menyerah hingga memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Meimei.
“Waktu itu bingung juga. Saya memang sudah enggak nyaman sama Meimei, tapi enggak pernah kepikiran buat cerai. Tetapi, semakin hari sejak menjadi pebisnis, sikapnya semakin egois, mana tahan,” tukasnya. Enggak usah ditahan-tahan, Mas.
Alung beralasan bahwa ia sudah tidak cocok dengan Meimei dan ingin hidup sendiri yang langsung diamini Meimei tanpa berpikir panjang. Akhirnya mereka resmi berpisah. Saat ini, Alung masih sendiri tapi sukses menjalani profesinya, bekerja di perusahaan bidang desain. Sedangkan Meimei, Alung tak pernah tahu sampai saat ini kabarnya. Ya, semoga cepat dapat pengganti Meimei yang lebih baik Mas. Amin. (Haidaroh/Nizar)










