JAKARTA – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mulai menggantikan peran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam konsolidasi Partai Demokrat. Kemarin (1/3) dia menyampaikan pidato politik yang seharusnya dilakukan ayahnya di Djakarta Theater. Dia merekomendasikan presiden mendatang untuk melanjutkan program SBY yang dinilai sukses.
”Seyogianya, pidato politik ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Demokrat. Tapi, beliau tidak bisa hadir karena sedang mendampingi Ibu Ani yang menjalani pengobatan,” terang Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat itu.
Dalam pidato bertema Rekomendasi Partai Demokrat untuk Presiden Indonesia Mendatang itu, AHY mengatakan bahwa Demokrat tidak mempunyai kader yang menjadi capres dan cawapres 2019–2024. Oleh karena itu, kata dia, tidaklah berlebihan jika pihaknya menyampaikan rekomendasi kepada presiden mendatang. ”Sebagai wujud kontribusi Partai Demokrat dalam memperjuangkan harapan rakyat Indonesia,” tutur dia.
Mantan calon gubernur DKI Jakarta tersebut menerangkan, ada beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia lima tahun mendatang. Di antaranya, bagaimana Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 6 persen. Yaitu, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, merata, dan berkelanjutan. ”Artinya, kue pembangunan ekonomi yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.
Tantangan berikutnya adalah memaksimalkan bonus demografi penduduk berusia produktif. Tentu, tutur dia, pihaknya tidak ingin angkatan kerja muda menjadi bencana karena tidak memiliki kapasitas, produktivitas, dan daya saing yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan menjadi kuncinya.
Kebutuhan energi dan pangan menjadi tantangan. Dia melihat melemahnya daya beli masyarakat terjadi di Jawa maupun luar Jawa. Lapangan pekerjaan juga masih menjadi masalah. Banyak anak muda yang cemas tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Karena itu, Demokrat merekomendasikan presiden mendatang untuk memacu pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.
Khusus untuk menyelesaikan kemiskinan, dia menyarankan presiden terpilih untuk melanjutkan program prorakyat SBY. Dalam kesempatan tersebut, AHY juga menyoroti perkembangan sosial politik saat ini. Menurut dia, pemilu merupakan sarana untuk memilih pemimpin yang memajukan bangsa dan negara menuju masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi, pesta demokrasi itu malah dijadikan ajang memaksakan keyakinan dan pilihan politik. ”Dampaknya, muncul fanatisme yang berlebihan,” ujar AHY. (JPG/RBG)








