SERANG – Sejak sebulan terakhir harga jual ayam broiler anjlok. Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) melakukan aksi bagi-bagi ayam hidup secara gratis sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak mampu menyelesaikan kelebihan suplai. Anjloknya harga ayam di tingkat peternak juga berdampak ke Banten.
Peternak ayam ras broiler di Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Ahmad Paridi mengeluhkan penurunan harga itu. Biasanya ia menjual dengan harga produksi Rp18 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp11 ribu. Paridi menuturkan, penurunan itu sudah terjadi setelah Lebaran 1440 Hijriah. “Habis Lebaran harga sudah mulai turun, dari Rp15 ribu, Rp14 ribu sampai saat ini hanya Rp11 ribu. Harga itu merupakan harga yang ditetapkan oleh pemerintah pusat khususnya untuk Provinsi Banten,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (28/6).
Anjloknya harga tersebut, lanjut Paridi, membuat dia dan rekanan sesama peternak ayam terancam berhenti sementara. “Kalau dipaksakan tetap berternak itu tidak mungkin lagi, dan semuanya juga kebanyakan memilih untuk menutup peternakannya,” tambahnya. Tetapi soal faktor anjloknya harga ayam di peternak itu, Paridi belum mengetahui pasti.
Kerugian juga dialami pedagang ayam di Kabupaten Pandeglang. Sejak Rabu (26/6) lalu harga jual di harga titik terendah Rp23 ribu per kilogram dari harga semula Rp36 ribu per kilogram. Hal itu terjadi akibat banyaknya pasokan dari perusahaan ternak tidak sebanding dengan jumlah peminat. Pemilik Agen Putra Mandiri Broiler di Kampung Sukagari, Desa Bama, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Adi Kusnadi mengaku kerugian penjualan daging ayam selama tiga hari terakhir mencapai 30 persen. “Saya kecolongan, saat naksir harga belanja di ternak dengan harga yang mahal, pas dijual harganya anjlok. Makanya rugi besar saya,” kata Adi tanpa menjelaskan nilai kerugiannya, kepada Radar Banten, kemarin.
Menurut Adi, sejumlah agen ayam broiler sudah menyampaikan keluhannya kepada pengusaha ternak agar ada upaya stabilitas harga di pasaran. “Kami sudah protes ke pengusaha peternak. Informasinya para peternak sudah melakukan beberapa kali rapat di internal perusahaan dan pemerintah pusat untuk membahas harga ayam yang anjlok,” katanya.
Adi mengaku, bersama dengan pedagang ayam di Kecamatan Pagelaran sudah menyepakati menahan harga jual eceran daging ayam di angka Rp29 ribu per kilogram kepada konsumen. “Kita berupaya agar harga jual tetap stabil. Saat ini sudah kembali naik Rp29 ribu per kilogram. Ada yang beli atau tidak harga itu tetap kita tahan agar para pedagang tidak merugi,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Pasar dan Energi Sumber Daya Mineral (Deperindag dan ESDM) Kabupaten Pandeglang Andi Kusnardi meyakini, harga daging ayam broiler akan stabil dengan sendirinya. “Masalah harga daging ayam ini skala nasional ya, dan kondisi terparah itu di Jawa. Ini permasalahan pengaturan di hulu saja, terlalu banyak pasokan. Tetapi hal ini sudah ditangani oleh pemerintah pusat. Nanti juga stabil kembali,” katanya.
BERALIH TERNAK
Di wilayah Lebak, beberapa pemilik usaha peternakan di Desa Binong, Kecamatan Maja, memilih untuk menghentikan usaha peternakan ayam yang digeluti selama lebih dari lima tahun. Sekarang, kandang ayam digunakan untuk beternak bebek karena harganya dinilai lebih tinggi dan tingkat kematian unggas tersebut cukup rendah.
Salah seorang pemilik peternakan bebek di Binong, Dian menyatakan, sejak awal 2019 mengalihkan usaha dari ternak ayam ke ternak bebek. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi persoalan anjloknya harga ayam di pasaran. Tapi ada faktor lain yang membuatnya tidak lagi beternak ayam. Di antaranya karena daya tahan bebek lebih baik dibandingkan dengan ayam. “Misalnya, dari seribu lebih anak ayam, angka kematiannya mencapai 200–300 ekor. Tapi untuk bebek angka kematiannya di bawah 100 ekor sehingga para peternak diuntungkan,” kata Dian.
Menurutnya, tidak semua peternak di Maja dan Sajira beralih ke bebek. Masih banyak peternak yang bertahan memelihara ayam, walaupun harganya terus mengalami penurunan. “Peternak di sini sebagian besar hanya menyediakan kandang dan tenaga. Untuk bibit, obat, dan pakan ternak didrop langsung dari perusahaan,” jelasnya.
MULAI NORMAL
Sementara itu, di salah satu peternakan ayam di Desa Ciherang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, aktivitas peternakan berjalan seperti biasanya. Pengelola peternakan ayam di Desa Ciherang, Ubaidillah mengatakan, harga ayam memang sempat turun selama beberapa hari. Harga normal yang biasanya Rp15 ribu per kilogram turun menjadi Rp13 ribu per kilogram. “Sempat turun selama 20 hari, sekarang alhamdulillah sudah normal lagi,” katanya.
Ubaidillah mengatakan, saat harga ayam turun, hanya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan operasional dan perawatan. Bahkan, order dari konsumen juga telat. “Saat harga turun orderan lama, kalau harga lagi normal malah orderan datang terus,” ujarnya.
Dalam waktu empat hari, Ubaidillah mengaku dapat memanen delapan ton ayam dewasa. Sasaran pemasarannya yakni perusahaan-perusahaan produksi makanan ayam di wilayah Kota Serang dan Kabupaten Serang. “Kalau peternakan kebanyakan konsumennya ke perusahaan-perusahaan, jarang yang dijual bebas di pasar,” terangnya.
Meskipun harga ayam naik turun, Ubaidillah mengaku tidak mempunyai strategi khusus supaya pemasaran tetap optimal. Menurutnya, para peternak ayam sangat begantung pada harga di pasaran. “Kalau strategi khusus kita enggak ada, ya ikut harga pasar saja,” ucapnya.
Di Kota Cilegon, pedagang juga membenarkan anjloknya harga ayam di pasaran. Udin, salah satu pedagang ayam di Pasar Blok F Kota Cilegon menjelaskan, kondisi itu terjadi pekan lalu hingga Kamis (27/6). “Enggak tau yah penyebabnya apa,” ujarnya kepada Radar Banten. Udin mengaku mendapatkan pasokan ayam dari Tambak, Kabupaten Serang, ia sendiri tidak terlalu mempersoalkan anjloknya harga ayam itu. (mg04-tur-jek-bam-/air/ags)










