Jarwo (44), nama samaran, tak bisa menikmati kebahagiaan di awal pernikahan. Istrinya, sebut saja Neli (41) selalu mengaitkan segala sesuatu dengan hal mistik. Sikap itu membuat Jarwo tak nyaman dan tak jarang beradu argumen dengan istrinya. Merasa terusik, rumah tangga mereka nyaris kandas di tengah jalan.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Ciruas, Jarwo pagi itu baru selesai sarapan ketoprak di pinggir jalan. Sambil merokok, Jarwo menceritakan seputar pengalaman rumah tangganya yang nyaris kandas. Peristiwa itu terjadi sepuluh tahun lalu. Jarwo yang memang sejak kecil tinggal di Tangerang tak pernah mengalami hal mistik. Setelah menikah dengan Neli yang merupakan warga Pandeglang, Jarwo kerap dibikin kesal dengan perilaku istrinya. Mulai dari mengaku sering melihat hantu, pernah merasa disantet, hingga hal klenik lain yang membuat Jarwo merasa terganggu. Situasi itu kerap membuat rumah tangga sering terjadi perselisihan. “Soalnya dia tuh parno. Apa-apa dikaitkan dengan hal mistik. Sakit meriang disangka kena santetlah, ada yang enggak sukalah, diganggu jinlah, kan konyol,” keluh Jarwo. Siapa tahu benar Kang!
Pertemuannya dengan Neli bermula pada sebuah acara ziarah di Kawasan Banten Lama. Waktu itu Jarwo sengaja memisahkan diri dari rombongan untuk berkeliling. Saat itulah ia bertemu dengan Neli yang sibuk menggendong keponakannya yang menangis ingin dibelikan sesuatu. Merasa tertarik dengan sosok Neli yang mempunyai wajah menawan dan bodi aduhai, Jarwo belaga sok pahlawan dengan menenangkan sang keponakan. “Pas saya gendong langsung diam (ponakan Neli-red). Saya kira itu anak dia, eh ternyata ponakan, kenalan deh,” kenangnya. Kalau anak dia kenapa?
Diakui Jarwo, ketertarikannya terhadap sosok Neli selain cantik, penampilan Neli juga sopan dengan baju muslimahnya. Belum lagi Neli memiliki mata indah yang membuat Jarwo jatuh cinta pada pandangan pertama. Ditambah senyum Neli dengan lesung pipitnya kerap membuat Jarwo lupa segalanya. Neli terlahir dari keluarga cukup berada. Ayahnya punya banyak sawah dan kebun. “Dia (Neli-red) juga baik, sopan, dan nurut ke suami,” pujinya.
Jarwo meski tak dianugerahi wajah tampan, tetapi statusnya sebagai orang terpelajar dan berasal dari keluarga berada, membuat Jarwo penuh percaya diri. Semasa mudanya, Jarwo juga kerap berpenampilan modis, pakai kemeja, celana jeans, sampai sepatu pantofel. Tak jarang wanita dibuat kelepek-kelepek oleh pesonanya. Pasca pertemuan itu, Jarwo menyimpan nomor telepon Neli dan beberapa kali mengajak bertemu untuk menemani jalan-jalan keliling kota Serang. Setahun kemudian, Jarwo lulus kuliah dan mereka pun menikah. Untuk sementara, mengawali rumah tangga mereka tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. “Dia enggak mau pisah dari orangtua,” terangnya. Biasa wanita, takutnya Akang buaya.
Berstatus suami, Jarwo bekerja sebagai guru SMA di kampung Neli. Sebagai orang baru, Jarwo merasa tak terlalu nyaman dalam menjalani profesinya maupun kehidupan sehari-hari. Sebulan sekali, ia pasti pulang ke Tangerang. Bujukannya terhadap Neli agar mau pindah tinggal di kota tak mempan. Sampai satu tahun kemudian mereka dikaruniai anak. Jarwo mulai menikmati khidupan barunya bersama istri. Meski upah sebagai guru honorer tak seberapa, tetapi semua kebutuhan ekonomi rumah tangga terpenuhi. Sejak memiiliki anak, sikap mistik Neli muncul. Entah karena ada gangguan makhluk lain atau memang terlalu takut, setiap ada yang terjadi pada Neli dan anaknya selalu dikaitkan ke hal mistik. “Awalnya pas anak saya nangis terus setiap malam, dia tuh pikirannya udah ke mana-mana,” kesalnya. Wajar, namanya juga perempuan.
Kepanikan Neli yang terlalu berlebihan lama-lama membuat Jarwo tak nyaman. Apalagi saat buah hatinya sakit, Neli sampai memanggil orang pintar agar rumahnya terhindar dari makhluk halus. Bahkan sampai hal-hal remeh pun dipermasalahkan. Lama-lama Jarwo tak tahan dan sering memarahi Neli. “Padahal anak sakit cukup dibawa ke puskesmas, enggak perlu dimantra-mantrain segala,” tukasnya. Takutnya psikis yang kena Kang.
Karena hal itu, Jarwo sering memaksa istri pindah ke Tangerang. Mendapat penolakan dari Neli, mereka kembali bertengkar. Tiga hari kemudian, Jarwo pergi sendirian ke Tangerang. Sejak itu mereka pisah ranjang selama sebulan. “Akhirnya orangtua saya datang ke rumah dia, eh Neli mau diajak pindah ke Tangerang,” tuturnya.
Sejak pindah di Tangerang, Jarwo bekerja di perusahaan milik teman ayahnya sambil melanjutkan kuliah S-2. Rumah tangganya dengan Neli pun berlangsung bahagia. Setahun sekali pulang kampung, Neli mulai menikmati gaya hidup yang diinginkan Jarwo. “Alhamdulillah sampai sekarang harmonis,” ucapnya. (mg06/zai/ags)









