SERANG – Banten dikenal sebagai tanah para jawara, yakni kelompok dengan kesaktian bermain pencak silat sampai kekebalan tubuh dalam seni debus. Di pinggangnya biasa terselip senjata tajam berupa golok.
Radar Banten berkesempatan mengunjungi Kampung Tejamari, Desa Sukamenak, Kecamatan Baros. Di desa ini, warganya secara turun-temurun menjadi perajin golok. Mereka sebagian hidup dari memproduksi berbagai jenis golok, yang dijual ke berbagai daerah, dari Sumatera sampai Palembang.
Abdul (61) menjadi salah satu yang tertua sebagai pandai di kampung ini. Ia mulai memproduksi golok pada 1982. Tapi ia merupakan generasi keempat dari keluarganya. Sehari ia mengaku bisa menempa 50 golok.
Setiap golok dijual Rp15-20 ribu per buah. Ada juga yang paling bagus kualitasnya dijual Rp50 ribu per golok. Bahan baku yang ia gunakan adalah besi bekas, misalkan dari per mobil atau jenis baja lain. Puluhan golok ini ia jual kepada para perajin dan pengukir golok di desanya.
“Saya khusus bagian menempa, satu jam menghasilkan 8 tempaan golok. Saya generasi ke-4, memang dari nenek moyang,” kata Abdul di rumahnya. (Daru/RBG)










