Jelajah cagar budaya kembali dihelat Balai Cagar Budaya (BPCB) Banten, Selasa (24/7). Wisata sejarah tahunan itu serasa memasuki ruang waktu Banten pada empat zaman.
JELAJAH dengan fokus objek bersejarah di Pandeglang ini, mengusung tema menelusuri cagar budaya. Arkeolog, praktisi sejarah, pegiat wisata, mahasiswa, pelajar, hingga awak media ikut serta dalam rombongan.
Sinar matahari pagi ikut membersamai pemberangakatn rombongan dari kantor BPCB Banten di Jalan Letnan Jidun, Kepandean, Kota Serang. Seremonial penglepasan dilakukan langsung Kepala BPCB Banten Rusmeijani Setyorini dan Sekretaris Dinas Pendidikan Ujang Rafiudin.
Tiga tim dibentuk, dan awak Radar Banten bersama tim kedua yang dipandu Yanuar Mandiri, selaku Pamong Budaya BPCB. Sepanjang jalan, Yanuar banyak menjelaskan perihal cagar budaya. Penjelasan Magister Arkeolog Universitas Indonesia ini, bersandar pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 yang menyebut cagar budaya sebagai warisan budaya. Baik berupa benda, bangunan, struktur, situs hingga kawasan.
Warisan itu bisa di darat atau di air. Semuanya perlu dilestarikan karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Penjelasan Yanuar turut melibatkan keaktifan peserta. Permainan dengan melempar pertanyaan menambah antusias peserta. Tampak semringah peserta yang menerima hadiah kado atas jawaban-jawaban pertanyaan perihal seluk beluk warisan peradaban Banten dari masa ke masa.
Dua jam sudah perjalanan. Tibalah rombongan jelajah di pameran cagar budaya yang dipusatkan di Gedung PKPRI, Kecamatan Labuan, Pandeglang. Pameran yang dihelat BPCB Banten suguhkan koleksi benda-benda cagar budaya Banten empat masa atau zaman. Beberapa di antaranya benda cagar budaya dari wilayah Sumatera, DKI Jakarta, dan Jawa Barat yang masuk wilayah kerja BPCB Banten.
Seorang pemandu mengarahkan rombongan melintasi rute penempatan koleksi yang sudah dikategorisasi berdasarkan periode tinggalan budaya dari masa prasejarah (megalitik), klasik (Hindu-Budha), Islam, dan masa kolonial.
Pada fase masa prasejarah, peserta dikenalkan pada situs-situs berbentuk batu besar. Situs cagar budaya Lebak Sibedug salah satunya. Situs megalitik terbesar yang ditemukan di Banten Kampung Sibedug, Kecamatan Cibeber, Lebak. Bentuk punden berundak memperlihatkan kompleksnya struktur yang terdiri atas tiga punden yang semakin meninggi ke arah timur.
“Bangunan punden berundak pada situs ini menunjukkan bukti lokal genius leluhur Nusantara dalam menciptakan pola dan tata arsitektur indiegenius yang belum mendapat pengaruh dari luar,” papar seorang pemandu.
Selangkah dari zaman megalitik, peserta memasuki zaman klasik (era Hindu-Budha). Prasasti Munjul jadi tinggalan yang paling laris manis sebagai objek pemotretan dan berswafoto pengunjung pameran.
Hampir semua orang yang melawati peninggalan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara ini mengabadikan momen. Apalagi, benda yang hanya berupa duplikasi itu, ukurannya paling besar dan mencolok di banding benda-benda lainnya.
Dari prasasti ini, banyak peneliti menduga pengaruh Hindu-Budha sudah masuk ke Banten sebelum abad kelima. Pada prasasti aslinya memuat tulisan yang dialihbahasakan G.J de Casparis bersama Boechari pada 1950.
“Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja,” demikian tulisan yang aslinya berhuruf palapa dan berbahasa sansakerta.
Selain Prasasti Munjul, masa klasik banyak meninggalkan benda bersejarah lain. Koleksi BPCB yang dipamerkan berupa Arca-arca dari Pulosari, Arca Ganesa dari Pulau Panaitan, Arca Nandi dari Karangantu, Tinggalan Genta Pendeta, Situs Patapan, dan Situs Banten Girang.
Tulisan pada Prasasti Munjul juga memberi batas pembeda peradaban pasa masa prasejarah dan klasik. “Tinggalan pra sejarah belum mengenal tulisan, beda dengan masa klasik yang sudah mengenal tulisan,” kata Yanuar. Akan tetapi, banyak situs tinggalan masa megalitik yang pada masa klasik difungsikan.
Situs Banten Girang seperti hikayat sejarah Banten. Dari situs ini peserta akan beralih ke masa peninggalan Islam. Tata letak koleksi itu sejurus dengan pemindahan pusat Ibukota Banten dari muara Sungai Cibanten ke wilayah pesisir Banten Lama (kini Kasemen).
Foto-foto Keraton Surosowan dan benda cagar budaya yang ditemukan di Banten Lama mewakili peralihan masa klasik ke Islam. Selebihnya, beberapa cagar budaya berupa masjid-masjid kuno di berbagai wilayah Banten yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Di antaranya, Masjid Caringin di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang menjadi salah satu lokasi tujuan jelajah pasca berkunjung ke pameran. Masjid ini dibangun pada 1883. Bersamaan Daendels membangun Jalan Anyar-Panarukan.
Layaknya reruntuhan Surosowan oleh serangan Daendels pada 1809, dilanjutnya penghapusan jejak Kesultanan Banten Thomas Stamford Bingley Raffles pada 1813, peradaban Banten pun berganti masa. Era baru yang dalam pembabakan zaman disebut era Kolonial. Cagar budaya bercorak bangunan indi Eropa jadi ciri khas tinggalannya. Bangunan bekas kantor pemerintahan, rumah-rumah dinas, jembatan, sampai senjata meriam kini jadi bahan pembelajaran cagar budaya.
“Jelajah ini sebagai upaya kita mengenalkan cagar budaya ke masyarakat. Tidak hanya tahu ceritanya, tapi juga melihat secara langsung sebagai pembelajaran,” kata Ketua Panitia Jelajah Cagar Budaya 2019, Fajar Subekhi. (KEN SUPRIYONO)










