TANGERANG – Festival Sungai Cisadane 2019 resmi dibuka Walikota Tangerang Arief R Wismansyah, Jumat (26/7). Seremonial pembukaan festival tahunan itu ditutup dengan atraksi jetski dari Arief dan Wakil Walikota Tangerang Sachrudin.
Kedua pimpinan itu memulai atraksi di atas jetski dengan berboncengan di sungai yang panjang totalnya sekira 126 kilometer. Sachrudin tampil di depan, memegang laju kendali kecepatan jetski. Sedangkan Arief membonceng sembari menenteng bendera merah putih. Atraksi dilakukan keduanya dengan mengenakan pakaian Ujung Serong. Pakaian adat yang biasa dikenakan para bangsawan Betawi lengkap dengan peci hitam.
Penuh percaya diri Sachrudin meliuk-liuk memecah air di atas jetski hitam bermotif kuning. Sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar dari masyarakat yang memenuhi sepanjang sungai menyaksikan atraksi langka kedua pemimpinnya.
Setelah beberapa kali melakukan putaran dan freestyle, Arief turun dari jetski yang dipacu Sachrudin. Seperti belum puas bermain-main di atas air, Sachrudin kembali menarik gas jetski-nya. Politikus Golkar itu kembali melintas memecah rute aliran air Sungai Cisadane.
Arief sepertinya tak ingin kalah dari wakilnya. Ia tunggangi jetski hitam bermotif merah yang terparkir di pinggir dermaga. Tanpa menunggu aba-aba, orang nomor wahid di Kota Tangerang itu langsung melaju kencang menyusul wakilnya.
Suasana pun semakin gemuruh. Terik matahari pun tak menyurutkan antusias masyarakat yang sejak siang hari memadati tepian sungai mengabadikan momen atraksi itu dengan foto dan video. Sebagian sudah bersiap dengan kamera digital, sebagian lagi mendadak mengabadikan dengan kamera gawainya.
Atraksi jetski dari Arief dan Sachrudin menutup rangkaian pembukaan yang sedari awal dibanjiri ragam kebudayaan. Kesenian Gambang Keromong dari Komunitas Seni Budaya Betawi (KSBB) Kota Tangerang yang mengawali. Kesenian khas Betawi itu dilanjutkan liukan barongsai merah, putih, dan kuning. Kesenian komunitas Tionghoa itu terasa memberi kuatnya corak akulturasi budaya yang sudah ratusan tahun hidup di masyarakat Tangerang.
Matahari kian condong ke ufuk barat. Sinarnya memantul ke air sungai, memberi kesan eksotik tersendiri.
Suasana di pinggiran sungai semakin padat. Dan, saat bandul jam menunjuk pukul 16.00 WIB, Arief yang didampingi Sachrudin tiba di dermaga terapung. Dermaga buatan itu tepat dibuat di depan destinasi jembatan berendeng dan panggung utama festival.
Rombongan itu hadir dengan iring-iringan atau parade seratus perahu, di antara perahu-perahu berkepala naga. Selain itu, tampak juga perahu kolek-kolek. Perahu berukuran kecil yang khas bagi masyarakat Tangerang. Turut serta Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti, jajaran pejabat di lingkungan Pemkot Tangerang, dan pimpinan Forkopimda Kota Tangerang.
Setiap rombongan perahu mengenakan pakaian adat nusantara. Mulai dari pakaian adat Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Lampung, Sumatera Selatan, daerah dari kabupaten kota di Banten, dan daerah lainnya. Sementara forum camat Kota Tangerang memilih mengenakan kostum superhero.
Di atas dermaga yang terapung di atas aliran sungai, Arief menekan sirine sebagai tanda dimulainya festival yang berlangsung hingga Sabtu (3/8).
“Tahun ini kita buat sore dan tadi libatkan hampir seratus perahu dan ada beberapa pengisi acara dari Tangerang,” kata Arief.
Tak sekadar agenda rutin tahunan, Arief menginginkan Festival Sungai Cisadane menjadi media merawat kelestarian sungai yang dinilainya sebagai sumber penghidupan. Tak terkecuali bagi pelestarian budaya yang hidup di lorong-lorong kehidupan masyarakat.
“Mudah-mudahan bisa membangun suasana kebersamaan, menjaga kelestarian Sungai Cisadane, juga melestarikan budaya masyarakat Tangerang,” cetus pria kelahiran 23 April 1977 itu.
Saat menaiki panggung utama, sajian tarian kolosal sangego melengkapi pembukaan festival. Tarian yang mengisahkan riwayat Sungai Cisadane semakin lengkap dengan atraksi silat jawara-jawara kecil dan tari lenggang nyai binaan Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tangerang. (Supriyono/RBG)








