SEPATAN – Paska kebakaran Rabu (24/7) dinihari lalu, aktivitas belajar SMPN 1 Sepatan berjalan seperti biasa. Namun, siswa yang ruang kelasnya terbakar harus mengungsi di lab komputer dan musala. Bahkan jam belajar mereka dikurangi.
Plt Kepala SMPN 1 Sepatan Endang Susilawati mengatakan, aktivitas belajar dilakukan hanya setengah hari. “Sementara untuk siswa yang tidak punya kelas karena kelasnya hangus terbakar kemarin, aktivitas belajarnya dialihkan dan hanya setengah hari saja,” katanya, Jumat (26/7).
Endang menerangkan, musibah kebakaran yang terjadi pukul 01.45 WIB itu menghanguskan dua ruang sekolah dan kios kantin sekolah. “Penyebabnya, diduga karena korsleting listrik dari kantin. Tapi karena kejadiannya dini hari sekolah kosong, jadi enggak ada korban jiwa,” terangnya.
Tetapi akibat kebakaran tersebut, Endang mengaku, kerugian materi akibat lalapan si jago merah itu mencapai sekira lebih dari Rp480 juta. “Kerugian fisik dua ruang kelas sekira Rp400 juta lebih dan kantin berikut isinya itu sekitar Rp80 jutaan,” akunya.
Untuk jam belajar, lanjut Endang, hanya dilakukan setengah hari sekira pukul 07.15-12.30 WIB. “Sisa-sisa kebakarannya masih kita benahi. Banyak paku-paku panjang dan pecahan kaca, jadinya jam belajar juga dibatasi agar sisa kebakarannya itu tidak melukai siswa, sambil kita benahi. Tembok ruang kelas juga belum kita bongkar, rencananya akan diratakan,” tutur Endang.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang belum dapat memberikan bantuan pembangunan fisik lantaran anggaran tersebut baru bisa direalisasikan di APBD Murni 2020 nanti. “Tim sarana prasarana kami sudah memeriksa lokasi kejadian dan memeriksa langsung akibat musibah itu. Tapi, saat ini belum bisa memberikan bantuan karena setelah koordinasi dengan Dinas Tata Ruang dan Bangunan baru bisa direalisasikan tahun depan,” kata Kepala Bidang SMP, Fahrudin di ruangannya, Kamis (25/7).
Soal biaya tak terduga, lanjut Fahrudin, bisa saja digunakan untuk membantu pembangunan kembali ruang kelas yang hangus terbakar. “Tetapi hal itu merupakan kebijakan dari pimpinan daerah. Jadi kita juga sedang menunggu dari para pimpinan baik Pak Sekda atau Bupati. Semoga bantuannya bisa direalisasikan secepatnya,” tuturnya.
Pengamat pendidikan di Kabupaten Tangerang Eny Suhaeni mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tangerang harusnya bisa bergerak cepat dalam memberikan bantuan fisik pembangunan ruang kelas baru untuk SMPN 1 Sepatan yang mengalami musibah beberapa waktu lalu.
“Di dalam anggaran APBD itu ada biaya tak terduga yang dialokasikan untuk kebutuhan tak terduga dan darurat. Dan kebakaran ini kan salah satu darurat dan tak terduga, jadi seharusnya Pemkab bisa segera membangun ruang kelas demi kenyamanan belajar siswa, terlebih Pemkab memiliki program gerakan sekolah menyenangkan (GSM). Jadi harusnya bisa segera dibangun lagi,” katanya, Jumat (26/7).
Mantan anggota Komisi C DPRD Kabupaten Tangerang 2004-2009 itu juga menegaskan, jika tetap tidak bisa menggunakan biaya atau anggaran tak terduga, maka pembangunan bisa menggunakan dana CSR. “Untuk dua ruang kelas mungkin tidak sampai satu miliar, empat ratus juta pun sudah mewah. (mg-04/asp)









