LEBAK – Isu akan terjadinya gempa bumi dan tsunami yang akan terjadi pada 20 Agustus, kemarin, telah meresahkan masyarakat yang berada di Desa Muara, Kecamatan Wanasalam.
Ratusan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai Wanasalam terpaksa memilih untuk mengungsi ke rumah kerabatnya sejak Senin (19/8) malam.
Kepala Desa (Kades) Muara, Kecamatan Wanasalam Endang Faouroni menerangkan, apabila isu gempa bumi dan tsunami tersebar melalui jejaring media sosial (medsos). Hal itu, kata dia, tentu saja membuat masyarakat di pesisir pantai Wanasalam mengungsi ke lokasi yang diyakini aman dari terjangan tsunami.
Misalnya, lanjut Endang, di kantor Kecamatan Wanasalam yang berlokasi di Desa Bejod, kantor Kecamatan Malingping, dan daerah lain yang lebih tinggi. “Saya enggak tahu siapa yang membuat isu akan adanya bencana gempa bumi dan tsunami pada 20 Agustus kemarin. Tapi di masyarakat sudah ramai dan mereka menjadi resah. Karena itu, masyarakat Muara banyak yang meninggalkan rumahnya untuk mengungsi ke keluarganya di lokasi yang aman,” kata Endang kepada Radar Banten, Selasa (20/8).
Namun demikian, kata dia, ada sebagian warga yang memilih bertahan di rumahnya masing-masing. Mereka baru akan mengungsi ke ketinggian ketika bencana gempa bumi mengguncang.
“Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, kami intensifkan patroli ke kampung-kampung. Saya bersyukur, tidak ada kejadian yang merugikan masyarakat,” katanya.
Endang mengaku, sudah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa gempa bumi dan tsunami tidak bisa diprediksi. Walaupun ada potensi gempa bumi dan tsunami dengan magnitudo 8 di Lebak selatan.
“Sekarang, (kemarin sore-red) masyarakat sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Bahkan, masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan telah turun ke laut untuk mencari ikan,” katanya.
Camat Wanasalam Cece Saputra meyakinkan, isu gempa bumi dan tsunami pada 20 Agustus merupakan hoax. Namun, kabar burung tersebut telah meresahkan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai di Lebak selatan, khususnya masyarakat Wanasalam.
“Iya, masyarakat sempat mengungsi ke sekitar kantor kecamatan di Desa Bejod. Mereka termakan isu akan terjadi gempa bumi dan tsunami pada 20 Agustus 2019,” ujarnya.
Cece berharap, masyarakat dapat menyaring berbagai informasi yang berkembang di medsos. Informasi mengenai gempa bumi dan tsunami dapat dilihat di website Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), karena BMKG selalu update informasi mengenai bencana gempa bumi yang terjadi di Indonesia. Termasuk gempa bumi yang berpotensi terjadinya tsunami.
“Kasihan masyarakat termakan berita bohong. Ke depan, kita minta masyarakat untuk lebih bijak dalam mencerna berbagai informasi di media sosial,” katanya. (tur/zis)










