TANGERANG – Penyebab keracunan massal santriwati Pondok Pesantren SMPIT Nurul Hikmah di Desa Pangadegan, Kecamatan Pasarkemis masih belum terpecahkan. Sementara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang masih menyelidiki dan menunggu hasil uji laboratorium dari sampel yang diambil dari tempat kejadian dan pabrik yang berada di lingkungan sekitar.
Kepala DLHK Kabupaten Tangerang Ahmad Taufik mengaku, pihaknya kembali mengambil sampel untuk dilakukan pengujian ulang untuk memastikan penyebab terulangnya keracunan massal itu. “Peristiwa sesak nafas terjadi dialami 15 santri untuk yang kedua kalinya di tempat yang sama dengan jenis sakit yang sama yaitu sesak nafas dan mual-mual. Untuk memastikan penyebabnya, kami kembali mengambil sampel dan dilakukan uji laboratorium. Hasilnya diperlukan 10 hari ke depan,” katanya, Rabu (4/9).
Taufik menjelaskan, ada beberapa perusahaan pengolahan limbah yang disinyalir menjadi penyebab sesak nafas massal yang dialami santriwati itu. Pabrik-pabrik tersebut merupakan usaha pengangkutan dan pengolahan limbah yang berjarak 700 meter hingga 1,2 kilometer dari lokasi Ponpes.
“Situasi dan kondisi antara pabrik limbah dengan Ponpes sudah dipadati rumah warga, sekolah dasar (SD), dan penduduk mulai dari bayi hingga dewasa. Tetapi warga tersebut, tidak mengalami keluhan dari adanya perusahaan pengolah limbah itu. Aktivitas warga berjalan normal,” jelasnya.
Sedangkan kondisi Ponpes, kamar tidur santriawati ada dua kamar dan hanya berukuran sekira 3×5 meter persegi diisi oleh 13 orang serta dipadati lemari-lemari pakaian dan buku-buku. Sedangkan dapurnya hanya berukuran sekira 2,4 meter persegi.
“Dari keterangan pengurus Ponpes sudah berdiri sejak 15 tahun lalu dan baru kali ini terjadi. Sedangkan ada santriwati yang sudah dua sampai tiga tahun pun baru kali ini mengalami sesak nafas karena menghirup udara yang kena polusi katanya,” ungkap mantan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) itu.
Taufik mengaku, saat ini pihaknya belum bisa berbuat banyak lantaran masih menunggu hasil uji laboratorium yang diambil dari Ponpes dan pabrik pengolah di wilayah tersebut. “Kami sudah memeriksa kualitas air dan udara. Sementara ini belum ada hasilnya karena masih dalam proses pemeriksaan dan uji lab. Kami juga bersinergi dengan instansi terkait mulai dari Pjs Kepala Desa, Camat, Dinas Kesehatan dan lainnya,” akunya.
Sebelumnya, belasan santri mengalami sesak nafas massal hingga dua kali. Pertama terjadi Rabu (28/8) lalu. Lalu, terbaru Senin (2/9) lalu. Belasan santri yang mengalami sesak nafas itu dirawat di Puskesmas Pasarkemis dan sempat dirawat semalaman hingga kondisinya membaik.
Sementara itu, Dinas Kesehatan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Hendra Tarmizi mengatakan, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan tim di Puskesmas Pasarkemis santri yang sesak nafas itu dipicu sakit maag.
“Jadi sementara bukan karena polusi udara yang tercemar karena pengolahan limbah. Karena maag pun bisa memicu sesak nafas. Dua kali peristiwa sesak nafas itu juga dialami oleh santri yang sama. Kalau penyebabnya polusi udara, bisa jadi warga yang tinggal dekat pabrik-pabrik pun keracunan dan sesak nafas, tapi ini enggak,” katanya, Rabu (4/9). (mg04/asp)








