Curhat Sarana Prasarana hingga Lingkungan Tempat Tinggal
Pemkab Serang mengundang siswa asal Papua untuk bersilaturahmi dengan Bupati Serang di Pendopo Bupati.
ABDUL ROZAK – SERANG
Kemarin siang (18/9), ada suasana yang berbeda di lingkungan Pemkab Serang. Biasanya para pegawai dan pejabat berlalu lalang, kali ini puluhan siswa berseragam abu-abu berbondong-bondong menuju Pendopo Bupati.
Mereka berambut ikal dengan kulit gelap, mimik wajahnya tampak semringah. Sesekali mereka saling bertegur canda sesama teman. Siapa pun yang melihat akan langsung menyimpulkan bahwa mereka berasal dari wilayah timur. Di depan pintu Pendopo, tim protokol Pemkab Serang sudah menunggu kedatangan mereka.
Mereka kemudian diarahkan masuk ke dalam Pendopo, duduk melingkar di kursi empuk yang biasa digunakan oleh tamu bupati. Siswa yang berjumlah 40 orang itu adalah siswa asal Papua, yang mengikuti program afirmasi di tiga sekolah di Kabupaten Serang. Mereka sengaja diundang untuk sekadar berbincang-bincang dengan bupati Serang.
Sebanyak 40 siswa asal Papua itu bersekolah di tiga sekolah di Kabupaten Serang. Yakni, SMKN 1 Kragilan, SMAN 1 Ciruas, dan SMKN 1 Petir. Mereka datang didampingi guru pembimbing hingga pejabat kecamatan setempat. Mereka juga didampingi oleh pejabat Polres Serang dan Polres Serang Kota.
Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menyambut kedatangan mereka dengan senyuman khasnya. Tatu kemudian menyampaikan beberapa kata kepada para siswa asal Papua itu. “Anak-anak sekalian, ini juga rumah kalian, kami yang ada di sini juga orangtua kalian,” kata Tatu.
Tatu memberikan penjelasan terkait isu rasisme yang beberapa waktu ke belakang sempat membuat geger warga Papua. Ia meminta kepada siswa asal Papua yang berada di Kabupaten Serang untuk tidak terpengaruh isu-isu rasisme. “Saat ini kalau ada yang berseteru, sedikit-sedikit bawa agama, bawa rasis, saya harap adik-adik jangan terpengaruh, kita semua bersaudara,” ujarnya.
Tatu kemudian mempersilakan siswa-siswa itu untuk menceritakan kondisinya selama tinggal di wilayah Kabupaten Serang. Ia mengaku, ingin mendengar keluh kesah mereka. “Bagaimana teman-temannya di sekolah, baik-baik kan? Coba Ibu pengin dengar apa saja keluhannya, biar nanti kita tindak lanjuti,” seru Tatu.
Sejumlah siswa pun dengan malu-malu menyampaikan keluhannya di hadapan Tatu. Seperti yang disampaikan siswa SMAN 1 Ciruas Keysa Valensia asal Kabupaten Rajaampat. Ia meminta perlindungan kepada Pemkab Serang selama tinggal di Kabupaten Serang. “Kami mohon perlindungan di sini, kami sedang belajar,” katanya singkat.
Dayung bersambut kemudian dilakukan siswa lainnya. Alesya Muktim siswa SMKN 1 Kragilan mengeluhkan soal maraknya pencurian di kontrakan tempat tinggalnya. Aksi pencurian itu dinilai Alesya sudah meresahkan. Ia juga mengeluhkan soal kurangnya bangku di sekolahnya. “Mohon bantuannya untuk keamanan di tempat tinggal kami, fasilitas di sekolah juga mohon dibantu,” ujarnya.
Berbeda dengan yang disampaikan Tomes, siswa SMAN 1 Petir. Ia mengeluhkan akses ibadah yang jauh dari tempat tinggalnya. Ia meminta Pemkab Serang bisa memfasilitasi mereka setiap hari Minggu untuk beribadah. “Tempatnya sangat jauh sekali, kami kendaraan tidak punya, yang mengantar tidak ada,” katanya.
Meski demikian, siswa-siswa Papua yang bersekolah di Kabupaten Serang mengaku, tidak mendapatkan masalah sosial dengan teman-teman di sekolahnya. “Semuanya baik-baik, tidak ada masalah, kami berteman di sekolah,” kata Tomes.
Mendengar keluhan para siswa itu, Tatu langsung memerintahkan pejabat yang hadir untuk mencatatnya. Tatu juga sempat menyebutkan nomor ponselnya kepada para siswa untuk menyampaikan keluhan lainnya secara langsung via ponsel. “Kalau ada masalah, sampaikan ke Ibu, atau ke ajudan Ibu,” katanya.
Tatu mengatakan, terkait keluhan sarana prasarana di sekolah, pihaknya akan menyampaikan hal tersebut kepada Pemprov Banten. Karena, tingkat SLTA sudah menjadi kewenangan Pemprov Banten. Sementara, soal keluhan lingkungan tempat tinggal dan akses ibadah, ia menginstruksikan kepada camat setempat untuk menindaklanjuti.
“Untuk ibadah setiap hari Minggu saya minta diantar dengan menggunakan mobil kecamatan, untuk keamanan tempat tinggal nanti saya akan tindak lanjuti bersama camat dan kepala desa setempat, termasuk juga dengan pihak kepolisian,” ujarnya. (*)









