SERANG – Dampak kerusuhan di Wamena, Papua, semakin meluas. Kondisi tersebut membuat situasi keamanan tak menentu. Banyak warga perantau dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatera, Makassar menjadi sasaran amuk warga. Lebih dari 30 orang meninggal dunia dan luka-luka akibat insiden tersebut.
Sebagian masih bisa menyelamatkan diri di posko-posko pengungsian. Tak terkecuali belasan warga Provinsi Banten dari Kota Serang dan Kabupaten Serang. Mereka masih tertahan dan tidak bisa pulang ke kampung halaman.
Nurhasanudin yang mengaku berasal dari Kelurahan Dalung, Cipocokjaya, Kota Serang, membenarkan masih tertahan di Sentani, Jayapura, saat awak Radar Banten menghubungi via telepon, Selasa (1/10). Mewakili teman-temannya, ia meminta Pemprov Banten atau Pemkot dan Pemkab Serang turun tangan untuk bisa memulangkan mereka.
Dari banyaknya warga Banten yang dikumpulkannya, Nurhasanudin mengaku baru mendata 16 orang. Kemungkinan jumlah tersebut bisa semakin bertambah karena masih ada rekannya yang tersebar di 26 titik pengungsian. “Sebenarnya banyak, tapi yang saya baru data ini ada 16 orang,” katanya.
Ia mengaku, baru selesai bertemu dengan mereka di kontrakannya di daerah Sentani, Jayapura. Sebanyak 16 orang tersebut, sembilan orang dari Kota Serang dan tujuh orang dari Kabupaten Serang. Empat di antaranya masih anak-anak di bawah lima tahun. Bahkan, istri Nurhasanudin sedang mengandung.
Mereka rata-rata beraktivitas sebagai penjual remote, tukang servis elektronik, dan pedagang bubur ayam. “Tolong pulangkan kami Pak, karena sudah tidak lagi bisa cari uang di sini, tapi mau pulang enggak ada uang,” aku Nurhasanudin.
Pria yang merantau sebagai penjual bubur ayam sejak 2012 itu lantas menceritakan kondisi di Sentani, Jayapura, yang menjadi daerah tempat tinggalnya. Menurutnya, sebelum kerusuhan pecah di Wamena, kerusuhan bermula di Sentani. Massa yang tidak terkendali ramai-ramai membakar fasilitas umum. “Sebelum Wamena, di Sentani yang pertama panas, yang kantor MRS dibakar, pelabuhan dibakar, hotel-hotel dibakar ini di Sentani, Jayapura,” katanya.
Namun, pada saat itu, media tidak diperbolehkan mengaksesnya. Sambungan internet sempat diputus. Kobaran api dan asap hitam pekat membumbung dari rumah, hotel, dan fasilitas umum yang telah hangus terbakar. “Kejadian-kejadian yang parah itu sudah seperti Suriah,” kata Nurhasanudin.
Setelah Sentani pecah, kerusuhan menyebar ke Wamena. Massa tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga warga pendatang dari berbagai daerah. Tak sedikit warga pendatang menjadi korban keganasan massa yang sudah tidak melihat tua muda. Bahkan, anak-anak pun menjadi sasaran amuk. Insiden keberingasan itu dilihat Nurhasanudin dengan matanya sendiri.
“Warga pendatang, yang di dalam rumah mati, di luar rumah mati. Ini ada yang istrinya meninggal, anaknya meninggal, yang adiknya meninggal,” ungkap pria kelahiran 28 tahun silam itu.
Warga perantauan yang tak terima pun mulai menghimpun diri melakukan perlawanan. Situasi semakin mencekam dan kondisi keamanan semakin tak menentu. Aktivitas jual beli dan jasa telah dihentikan sementara hingga 3 Oktober. “Pendatang sudah rapat semua dan akan ada perlawanan. Yang kita takutkan ada bentrokan dari pendatang dan lokal, makanya mereka ingin dipulangkan,” cetusnya.
Menurut Nurhasanudin, warga Banten tidak ada yang menjadi korban. Namun, rekannya dari Jawa Barat harus mengalami luka bacok di bagian kepala. “Dari Padang ada delapan orang, Makassar ada 22. Itu balita saja dibelah kepalanya, Pak,” katanya tersedu. (ken/air/ira)









