SERANG – Penjualan eceran pada Agustus 2019 tumbuh melambat. Hal ini tercermin dari indeks penjualan riil (IPR) yang tumbuh 1,1 persen (yoy), lebih rendah dibanding dengan IPR Juli 2019 sebesar 2,4 persen (yoy). Kinerja penjualan eceran ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori yang tumbuh tinggi, serta kelompok komoditas perlengkapan rumah tangga lain yang tumbuh meningkat, antara lain barang elektronik selain audio atau video dan perabot rumah tangga.
Dikutip hasil survei penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia, Rabu (9/10), survei ini mengindikasikan penjualan eceran pada kuartal III 2019 tumbuh melambat sebesar 1,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II 2019 sebesar 4,2% (yoy), dan pada kuartal III 2018 tercatat 4,6% (yoy). Adapun kelompok yang paling terkontraksi adalah sandang yang tercatat 1,0% (yoy), setelah sebelumnya tercatat tumbuh 27,5% (yoy) pada kuartal II/2019 akibat tingginya permintaan selama Lebaran.
Selain sandang, penurunan penjualan juga terjadi pada kelompok bahan bakar kendaraan bermotor kontraksi -6,6% (yoy), dan kelompok barang budaya dan rekreasi alami kontraksi -6,8% (yoy). Kontraksi ini masing-masing tercatat lebih dalam dari kuartal sebelumnya yaitu -3,4% (yoy) dan -1,4% (yoy).
Meski demikian, penjualan eceran diprakirakan tumbuh meningkat pada September 2019. Hal itu terindikasi dari IPR September 2019 yang diprakirakan tumbuh sebesar 2,1% (yoy).
Peningkatan terutama bersumber dari meningkatnya pertumbuhan penjualan kelompok perlengkapan rumah tangga lain dan kelompok makanan, , dan tembakau, serta tetap tingginya pertumbuhan penjualan kelompok suku cadang dan aksesori.
Hasil survei ini juga mengindikasikan tekanan kenaikan harga pada tingkat pedagang eceran dalam enam bulan mendatang sampai Februari 2019 diprakirakan akan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 6 bulan yang akan datang sebesar 168,2, lebih rendah dibandingkan dengan IEH pada bulan sebelumnya sebesar 174,7.(aas/ags)









