TANGERANG – Sampah menjadi persoalan klasik yang banyak dikeluhkan masyarakat. Namun hal itu tidak berlaku di Desa Talagasari, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang yang mempunyai bank sampah dan mengolahnya menjadi pundi rupiah.
Penjabat Kepala Desa Talagasari H Ahmad Nawawi mengatakan, bank sampah merupakan inovasi unggulan yang sudah berjalan tahun ini. “Alhamdulillah kami memiliki bank sampah yang dikelola oleh karang taruna dan cukup maju. Mereka juga punya tempat khusus dalam pengelolaan sampahnya,” katanya kepada Radar Banten di kantornya, Senin (21/10) lalu.
Nawawi menerangkan, sampah-sampah yang dikelola bank sampah tersebut berasal dari sampah-sampah warga yang dikumpulkan. Baik sampah organik maupun an-organik. Hal itu selaras, karena Desa Talagasari merupakan Kampung Berseri Astra (KBA). “Untuk sampah an-organik seperti botol plastik bekas selain dijual kepada pengepul juga dimanfaatkan untuk dijadikan kerajinan tangan. Sedangkan sampah organiknya, dikelola untuk dibuat kompos karena mereka juga memiliki komposternya. Hasilnya, sampah-sampah yang sudah dipilah dan dikelola bisa jadi rupiah sebagai pendapatan warga,” terangnya.
Selain bisa menghasilkan rupiah, adanya bank sampah tersebut juga meningkatkan kebersihan desa. Dampaknya sudah tidak ada lagi sampah berserakan di lingkungan, karena dipungut langsung dan diolah masyarakat.
Sementara itu Sekretaris Karang Taruna Talagasari Dede Suhendri menjelaskan, bank sampah Talagasari dibentuk 19 Juli 2019. Kini, sudah ada 97 warga yang terdaftar sebagai nasabah. “Sampah-sampah dari warga akan kami jemput secara keliling dan sesuai permitaan. Kalau sampah di rumahnya sudah penuh, kami akan jemput menggunakan motor gerobak sampah,” jelasnya.
Soal pembayarannya, dibagi ke dalam tiga kategori yakni reguler, pendidikan dan tabungan hari raya. “Setiap nasabah punya buku tabungannya sendiri. Soal pembayarannya tergantung permintaan warga, tetapi lebih banyak yang memilih tabungan hari raya untuk kebutuhan lebaran,” terang Dede.
Sedangkan Ketua Karang Taruna Talagasari Madyani menuturkan, setelah selesai diolah dan dibersihkan sampah-sampah plastik akan dijual kepada pengepul, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk cair menggunakan komposter. “Ada 22 komposter yang disimpan di rumah-rumah penggiat bank sampah. Saat ini, sudah ada 144 pupuk cair yang terkumpul dan sudah ada peminatnya. Jadi meskipun dari tumpukan sampah, jika diolah bisa bermanfaat lebih banyak lagi,” pungkasnya.
Untuk omzet, tambah Madyani, perbulan bisa mencapai Rp3 hingga Rp5 juta. Tetapi, tidak semua sampah plastik dijual, karena ada yang dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan. “Untuk sampah plastik, juga ada sebagian yang diolah menjadi kerajinan tangan. Hasil kreasinya, disimpan di rumah pintar yang ada di Desa Talagasari,” tutup penggerak Kampung Bersih Astra (KBA) itu. (pem/rb/adm)










