TANGERANG – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Buaranjati Amanah tengah menjadi perhatian Kepala Desa Buaranjati, Kecamatan Sukadiri, Kuswara. Tahun ini, ia akan menguji coba warung desa yang dikelola BUMDes tersebut. Warung ini akan menjual kebutuhan sembako dan pertanian. Warung desa, menurut Kuswara, ditetapkan sebagai unit usaha BUMDes Buaranjati Amanah mengingat harga kebutuhan rumah tangga di pasaran yang dinilai mahal. Dengan modal awal Rp200 juta, warung desa ini akan menjual beberapa barang sembako di bawah harga pasaran.
”Barang yang dijual di sini, kita upayakan akan lebih murah dibandingkan warung biasa. Ya, minimal kami bisa kasih selisih dari Rp500 sampai Rp1.000. Serupa grosir. Yang ngelolanya, nanti, pengurus BUMDes. Rencananya, kami ingin memasok lele untuk penjual pecel lele. Minimal satu kilogram. Itu syarat saja karena mereka (penjual pecel lele-red) turut berjualan di sini (Desa Buaranjati-red). Ya, mereka juga bantu usaha desa,” tutur Kuswara kepada Tim Saba Desa Radar Banten di Kantor Desa Buaranjati, Jalan Raya Mauk KM 16, Kamis (9/5).
Warung desa, lanjut Kuswara, juga akan menyediakan beberapa barang hasil kerajinan warga Buaranjati. Antara lain, tas kandek dan kaos produksi rumahan warga Buaranjati.

Kepala Desa Buaranjati Kuswara
Sekretaris BUMDes Buaranjati Amanah Jamaludin menambahkan, pihaknya akan membuat dan mengelola warung desa ini semenarik mungkin. Warung desa ini, rencananya akan menggunakan salah satu ruangan di Kantor Desa Buaranjati.
”Di bidang perekonomian, kita (BUMDes Buaranjati Amanah-red) mau membuat warung sembako dan penjualan gas elpiji. Di bidang pertanian, kita akan menyediakan semua kebutuhan pertanian. Di antaranya, pupuk, dan obat-obatan. Untuk lokasi sementara, kita mau memakai kantor desa dulu, karena kita belum punya lahan. Tapi kalau sudah berjalan, kita akan menyewa tempat,” jelas Jamaludin saat dikonfirmasi oleh Tim Saba Desa Radar Banten melalui WhatsApp, kemarin.
INFRASTRUKTUR
Soal pembangunan infrastruktur, Kepala Desa Buaranjati Kuswara menjelaskan, diawali pelaksanaannya pada 2014. Waktu itu, Kuswara membangun kantor desa dengan uang pribadinya. Totalnya, senilai Rp350 juta. ”Waktu itu kan belum ada Dana Desa,” ungkapnya.
Hingga 2018, menurut Kuswara, pihaknya telah menyelesaikan pengerjaan pembangunan jalan, saluran pembuangan air limbah (SPAL), tembok penahan tanah atau turap, dan drainase. Saat ini, telah mencapai 80 persen.
Program pembangunan fisik tahun ini, lanjut Kuswara, Pemerintah Desa Buaranjati tengah melakukan pelebaran jalan, pengurukan, dan pembangunan turap. Jalan sepanjang sekira 400 meter ini, dari RW 4 hingga RW 5, akan dilebarkan sekira satu meter di kanan dan kiri jalan.
”Kita juga lagi masang tiang listrik di wilayah RW 006. Itu dari tanggul Cirarab sampai ke TPU (tempat pemakaman umum-red) Buaranjati. Pengajuannya baru lima belas tiang. Saya sih berharap, sebelum Lebaran, sudah pemasangan kabel dan lampu. Selanjutnya akan pengajuan lagi lima belas tiang untuk wilayah RW 004 sampai RW 005,” jelas Kuswara. ”Rencananya, TPU Buaranjati juga akan ditata dan dirapikan. Hanya saja, tanah TPU ini hasil swadaya masyarakat. Agak sulit untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah karena bukan tanah wakaf pemerintah,” tutup Kuswara. (pem/rb/sub)








