SERANG – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soewinata mengungkapkan, penjualan produk properti khususnya komersial mengalami penurunan yang cukup drastis. Salah satunya disebabkan adanya perlambatan ekonomi baik domestik maupun global.
“Sehingga, daya beli konsumen berkurang,” katanya di sela-sela acara Musda VII REI Banten di Tangerang, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, terkait penurunan itu, sebenarnya pemerintah saat ini sudah melakukan beberapa relaksasi atau pelonggaran uang muka sehingga lebih terjangkau. Selain itu, Bank Indonesia juga sudah menurunkan suku bunga agar masyarakat semakin mudah memiliki hunian.
“Namun, tidak bisa dipungkiri suku bunga perbankan masih tinggi sekira 12-13 persen. Maunya sih bisa di bawah sepuluh persen,” katanya.
Ia mengungkapkan, penjualan rumah komersial yang biasa dipasarkan dengan harga Rp200 jutaan kalah dengan rumah subsidi. Peminat rumah subsidi masih tinggi, tetapi kuota subsidinya habis sehingga pengembang tidak bisa menjual produk. “Mudah-mudahan anggaran tambahan dari pemerintah bisa segera cair,” katanya.
Ekonom nasional Aviliani mengatakan, terkait penjualan properti yang paling diminati justru produk dengan harga di atas Rp6 miliar. Sementara peminat rumah dengan harga Rp500 juta hingga Rp2 miliar juga ada, tetapi tidak banyak.”Justru penjualan rumah subsidi yang bagus, tetapi terhambat kuota,” katanya.
Ia mengungkapkan, untuk mendorong pertumbuhan sektor properti seharusnya pemerintah, perbankan, dan pengembang mengubah regulasi mengenai kepemilikan rumah. Saat ini, yang terjadi hanya karyawan tetap yang bisa memiliki rumah. Jadi, sektor informal yang memiliki penghasilan besar tidak bisa diakomodasi. “Padahal kemampuan bayar dan potensinya ada,” katanya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, setiap tahun harga properti memang cenderung naik dan pengusaha properti memang harus mencari cara baru dalam penjualan produk. “Bagaimanapun properti merupakan kebutuhan dasar, seharusnya penjualannya bisa bagus,” katanya. (skn/aas/ira)








