PASARKEMIS – Banyak para petani di berbagai wilayah mengeluh gagal panen akibat musim kemarau yang panjang. Tetapi berbeda dengan para petani di Desa Pangadegan, Kecamatan Pasarkemis, Kabupaten Tangerang. Belasan petani bisa survive di musim kemarau dengan menanam kucai.
Penjabat sementara (Pjs) Kepala Desa Pangadegan Ahmad Rojali Saputra mengatakan, petani yang menanam kucai tersebut tergabung dalam kelompok tani Subur Tani Mandiri. “Kucai merupakan tanaman sayuran hampir mirip dengan daun bawang. Keberadaanya, sangat dicari masyarakat untuk dimanfaatkan jadi campuran sayuran misalnya laksa khas Tangerang. Bisa dibilang tanaman kucai ini primadona karena biaya operasionalnya murah dan pasarnya menjanjikan,” katanya kepada tim Saba Desa di kantornya, Kamis (8/11).
Rojali menerangkan, ada 15 petani yang kini giat menanam kucai. Mereka, berstatus sebagai petani penggarap yang memanfaatkan lahan milik pihak ketiga yang tidak produktif. “Lokasi tanaman kucai ada di Kampung Pabuaran RT 03 RW 03. Para petani tergabung dalam kelompok tani Subur Tani dan memanfaatkan lahan tidak produktif sekira empat hektare. Tapi, alhamdulillah tanah tersebut kini bisa menghasilkan, hasil kucainya banyak dicari masyarakat,” terangnya.
Selain tanaman kucai, di desa seluas 434 hektare itu memiliki potensi lain berupa tanaman obat keluarga yang dikelola dan diproduksi di Kampung Gaok RT 03 RW 04 yakni green zone. “Green zone merupakan tempat berbagai macam tanaman obat yang yang dikelola oleh salah satu warga. Hasil dari tanaman obat tersebut dijadikan sebagai tanaman herbal dengan beragam khasiat,” ungkap Rojali.
Ke depan, kata Rojali, Pemerintah Desa Pangadegan berencana akan menjadikan green zone sebagai salah satu unit usaha yang dikelola melalui badan usaha milik desa (Bumdes). “Ke depan, diharapkan green zone bisa berkembang. Karena selain tanaman obatnya bermanfaat, adanya green zone bisa menyerap tenaga kerja dari warga sehingga bisa meningkatkan ekonomi warga,” pungkasnya.
Salah seorang petani kucai, Suryani menuturkan, permintaan pasar pada tanaman kucai sangat tinggi, perhari bisa mencapai tiga kwintal. Namun, kata Suryani, saat ini pihaknya hanya mampu memasok satu kwintal perhari. “Dibandingkan dengan tanaman lain, kucai lebih hemat biaya operasionalnya. Selain itu, peminat di pasaran juga cukup tinggi,” tutur Suryani.
Suryani yang juga merupakan sekretaris kelompok tani Subur Tani Mandiri mengatakan, kucai yang ia tanam dijual seharga Rp7 ribu per kilogram. Setiap lahan satu hektare, bisa menghasilkan satu kwintal lebih. “Desa Pangadegan ini cukup menjanjikan di bidang pertanian karena sumber airnya juga tersedia. Tidak hanya kucai, tapi tanaman sayur lainnya sangat berpotensi. Jadi, profesi petani pun sangat menjanjikan tergantung kemauan dan keseriusan si petani,” tutupnya. (pem/rb)











