SERANG – Pelibatan pelaku budaya dalam mencegah konflik sosial dinilai cukup efektif. Terlebih dengan kembali menanamkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat.
Penilaian tersebut disampaikan Dirjen Perlindungan Jaminan Sosial Kemensos R Harry Hikmat saat menyampaikan paparan materinya pada Sarasehan Keserasian Sosial yang diadakan Dinas Sosial Provinsi Banten di Studio Banten TV, Graha Pena Radar Banten, Rabu (11/12).
Menurutnya, konflik sosial harus ditangani dengan meningkatkan ketahanan sosial masyarakat. Selain itu, melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif. “Kesadaran sosial bisa terjaga kalau ada kontrol sosial masyarakat yang kuat,” katanya.
Ketahanan sosial bisa dibangkitkan kembali melalui pembangunan kampung ketahanan sosial di kampung yang diindikasikan ada kerawanan. “Selain kampung ketahanan sosial, kearifan lokal yang ada juga terbukti bisa menjadi instrumen untuk mencegah konflik sosial,” ujarnya.
Usai menghadiri sarasehan, Harry membuka Gebyar Budaya Kearifan Lokal dalam rangka perlindungan sosial korban bencana sosial. Melihat banyaknya pelaku budaya yang hadir, Harry memberi apresiasi.
Terlebih budaya pencak silat yang memang dinilainya sudah sangat mengakar di Banten. Kata dia, Kemensos dalam upaya mencegah konflik sosial, radikalisme, dan terorisme salah satunya dengan penguatan kearifan lokal. “Kalau sampai konflik sosial, perilaku radikalisme sampai terorisme di tengah masyarakat, pemerintah harus hadir dengan membangun keserasian sosial dengan kearifan lokal,” katanya.
Pencak silat sebagai salah satu kearifan lokal di Banten, ucap Harry, banyak memberi pengaruh positif. Salah satunya, ketangguhan mental dan motivasi untuk berprestasi. “Kearifan lokal yang lain sudah tentu perlu diaktualisasikan juga agar saling asah, asih, dan asuh,” ujarnya.
Pada acara yang dilangsungkan di Radar Arena, Radar Banten itu puluhan peguron atau perguruan pencak silat di Banten turut dihadirkan Dinsos Banten. Para pesilat ramai-ramai menunjukkan kebolehan jurus silatnya pada kegiatan tersebut.
Harry mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya peguron di nusantara agar terus mengembangkan seni pencak silat hingga di masa mendatang. “Kami mendukung agar peguron tumbuh berkembang dengan sedikit bantuan dari pemerintah, baik untuk perbaikan peralatan, seragam, atau yang lainnya demi kemajuan peguron,” ucapnya.
Pada kesempatan sama, Kepala Dinsos Banten Nurhana mengatakan, sesuai amanat Gubernur Banten Wahidin Halim, untuk meningkatkan ketahanan sosial perlu adanya sinergi dengan Kementerian Sosial. Pada dua kegiatan ini, kata Nurhana, keterlibatan Kemensos untuk melihat langsung keberagaman kearifan lokal di Banten dalam rangka ketahanan sosial.
Menurut Nurhana, berbagai keragaman kearifan lokal di Banten sudah sepantasnya dapat dijadikan sebagai sebuah potensi besar untuk menjaga persatuan dan kesatuan. “Terpenting lagi demi untuk menangkal pengaruh anasir-anasir radikalisme dan terorisme,” katanya.
Menurutnya, dari berbagai dasar ilmu dan filosofi serta fatsun berbeda, pencak silat dapat menjadi potensi yang sangat kuat dan besar dalam menangkal radikalisme dan terorisme,” tambah Nurhana, didampingi Plt Sekretaris Dinsos Banten Budi Darma.
Ia mengatakan, Pemprov Banten mendorong tumbuhnya kearifan lokal dengan berbagai keragamannya demi menjadi potensi persatuan dan kesatuan. “Terlebih lagi dengan adanya Gelar Budaya Kearifan Lokal yang dilaksanakan Dinsos Banten hari ini. Ada 33 peguron yang semuanya ya kita satukan dalam sebuah kearifan lokal,” ucapnya. (ken/air/ira)









