Dijelaskan Helldy, salah satu persoalan BPRS adalah tingginya angka Non Performing Financing (NPF) atau laju pertumbuhan pembiayaan bermasalah.
“BPRS itu salah satu indikator NPF kita tinggi, 10,6 kurang lebih, angka ideal itu di bawah lima, jadi langkah konkret apa yang harus dilakukan, selama ini belum terselesaikan,” ujarnya.
Helldy mengaku sudah mendapatkan sosok yang dianggapnya tepat usai melakukan wawancara tersebut.
Namun, Helldy mengaku belum bisa membeberkan saat ini, karena pasca wawancara tersebut Helldy mengaku akan berdiskusi terlebih dahulu dengan Wakil Walikota Cilegon Sanuji Pentamarta.
Disinggung soal rekam jejak calon direksi dan komisaris, Helldy mengaku tidak bisa membeberkannya ke publik, karena itu merupakan kebutuhan internal.
Diakui Helldy, proses penelusuran rekam jejak membuat proses lelang jabatan lebih lama.
“Menurut saya rekam jejak itu internal kita, bukan untuk dipublikasikan ke umum,” ujarnya.
Soal rekam jejak hasil penelusuran BIN pun menjadi perhatian serius publik. Ini lantaran, dikabarkan jika dalam dokumen rekam jejak tersebut memuat seluruh aspek baik dan buruknya setiap kandidat. (bam/air)











