Namun, masyarakat yang keracunan makanan tidak mengeluhkan mual, diare, muntah-muntah, dan pusing pada hari peresmian toko. Keesokan harinya, mereka baru merasakan gejala keracunan dan langsung dibawa keluarganya ke Puskesmas Cijaku untuk mendapat perawatan. Tapi, mereka tidak datang sekaligus ke puskesmas. Warga yang merasakan gejala mual, diare, muntah-muntah, dan pusing, datang bertahap ke puskesmas pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.
“Sekarang, jumlah warga yang masih dirawat tinggal sembilan orang. Sedangkan sisanya sudah dipulangkan dan jika mengalami gejala berat disarankan untuk kembali datang ke puskesmas atau rumah sakit,” jelasnya.
Pemerintah desa, kata Eny, telah mengundang pemilik toko untuk berdialog dengan keluarga yang mengalami keracunan. Kedua belah pihak menganggap kejadian tersebut sebagai musibah. Karena, pemilik toko Jejen punya niat baik, yakni ingin berbagi dengan masyarakat dan anak-anak yatim.
“Sudah saya panggil dan dialog langsung dengan warga yang mengalami keracunan. Mereka semua menganggap ini sebuah musibah,” katanya.
Apalagi, sampai saat ini belum ada hasil laboratorium yang menyatakan keracunan makanan itu berasal dari makanan yang diberikan Jejen kepada masyarakat. “Kita masih tunggu hasilnya. Tapi memang dugaannya dari makanan yang ada di besek,” ujar Eny.
Terpisah, Kepala Puskesmas Cijaku Susilo membenarkan, masyarakat di Cijaku diduga mengalami keracunan makanan. Mereka datang bertahap ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis mulai dari Jumat pagi hingga Sabtu.










