Foto Sepuasnya di Keraton Kaibon
SERANG – Ada banyak pilihan trek bersepeda di seputaran Kota Serang. Mau yang ekstrem, yang sedang, yang trek santai alias yang datar-datar saja. Ada. Banyak.
Nah, salah satu trek datar yang banyak diminati penggowes Kota Serang dan sekitarnya adalah Pantai Gope, Karangantu, Kota Serang. Jaraknya dari pusat Kota Serang cukup dekat. Hanya 11 kilometer. Jalan aspalnya mulus dan datar. “Nah, itu dia Pantai Gope, selalu bikin kangen,” kata Pak dhe, penggowes senior asal Sepang, Taktakan.
Trek ini tidak hanya diminati penggowes pemula. Yang senior dan kawakan pun banyak yang suka kesini, kalau lagi ingin santai atau refresing. Kata para penggowes, Pantai Gope itu ngangenin. Termasuk masyarakat umum yang datang dengan kendaraan mesin.
Kenapa? Karena Pantai Gope ini tempat ideal untuk refresing. Lokasinya merupakan perpaduan pantai, hutan mangrove dan tempat pelelangan ikan, sekaligus ada Pelabuhan Karangantu untuk bersandarnya kapal-kapal nelayan.
Nah, untuk masuk ke area Pelabuhan Karangantu ini, harus melewati pos jaga. Setiap kendaraan hanya dikenakan tarif masuk Rp 500. Itu dulu. Tidak tau sekarang tarif masuknya berapa. Itulah (mungkin) awal mula populernya nama: Pantai Gope. Gope (bahasa Mandarin) artinya Rp 500,-
Tak heran, setiap akhir pekan atau hari libur selalu ramai dikunjungi penggowes dan warga yang berbaur menjadi satu. “Hayo pak dhe, kita gowes ke Pantai Gope. Sudah lama gak kesana. Kangen,” ajak Syahri, warga Permata Safira kepada penulis, beberapa minggu lalu.
Penggowes lainnya dari Permata Safira yang tergabung dalam klub Safira Cycling Club (SCC) Suharno, Imat, Eko, Didit, Sarono, Ilham dan Kacrut dengan senang hati senang diajak serta ke Pantai Gope. “Iya, nanti kita ngopi dan cari pisang goreng yang spesial,” tambah Suharno dengan riangnya.
Di Pantai Gope, ternyata sudah penuh dengan masyarakat yang pengin refresing. Mereka mengaku sudah jenuh tidak kemana-mana selama pandemi covid-19. Selama masa pandemi covid 19, Pantai Gope pernah ditutup untuk umum.
Sehingga begitu dibuka, langsung diserbu warga yang pengin menghirup udara segar.
Di Pantai Gope, banyak pedagang keliling yang menjajakan kopi, mie seduh, gorengan dan minuman ringan lainnya. Bagi penggowes yang belum sempat sarapan, tinggal memesan kopi, teh atau mie seduh. Dengan harga yang murah meriah.
Kalau mau minum kopi dan pisang goreng panas, juga tersedia di warung-warung yang dibangun sederhana di kanan jalan.
Pantai Gope sendiri, kondisinya cukup bagus. Sebuah jalan beton dibangun mulai dari tempat pelelangan ikan hingga menjorok ke laut sekitar 400 an meter. Di sebelah kanan tumbuh hutan mangrove yang cukup rindang. Sementara di sebelah kiri merupakan kanal laut, jalur untuk keluar masuk kapal nelayan dari dan ke Pelabuhan Karangantu.
Di Pelabuhan Karangantu, warga juga bisa menyewa kapal menuju ke pulau-pulau di seputaran Teluk Banten. Selain itu, para penghobi mancing juga bisa menyewa kapal. Semua tarif tergantung kesepakatan. Tergantung jauh dekatnya tujuan dan lamanya waktu sewa.

Puas di Pantai Gope, penggowes bisa mengunjungi Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Kawasan Masjid Agung Banten Lama, Benteng Speelwijk dan Vihara Avalo Kitesvara, yang jaraknya berdekatan.
Lokasi-lokasi yang disebut terakhir merupakan destinasi wisata yang sudah kesohor.
Pengunjung bisa berfoto ria sepuas-puasnya, sambil mengenang sejarah keemasan Kesultanan Banten. “Hayo kang Imat, foto dengan gaya andalan, melompat,” seru Didit dan Eko, begitu sampai di Keraton Kaibon. Di Keraton Kaibon memang banyak spot- spot indah untuk angle foto.
Keraton Kaibon adalah bekas kediaman Sultan Sjaifuddin, yang pernah memerintah Kesultanan Banten tahun 1809-1815. (widodo)











