Dengan bayarannya fantastis, Ratusan juta rupiah untuk 21 hari kerja. PNS mana bisa dapat segitu, hehe. Eit, jangan iri. Profesi rekayasa hujan memang mahal. Dulu, The Rain Maker, Frank Melbourne, pun dikenal berhonor tinggi. Tahun 1890-an.
Ritual begitu bukan hal baru. Tiga ribuan tahun lalu, di China, pawang hujan (Chinese Shaman) kelilingi api unggun sambil komat-kamit baca mantra. Hujan turun diyakini sebanyak cucuran keringat dari panasnya kobaran api.
Di Barat, penduduk asli Amerika, bahkan sampai ke Eropa, mengenal tarian hujan (rain dance). Yunani Kuno juga akrab dengan dewa pengendali hujan.
Di Indonesia, lihatlah Rara. Sesajen dikelilingi parit air. Ada pula es batu dan abu kayu. Mengobrol dengan air, tanah dan awan. Sambil berharap kebaikan Tuhan. Begitulah, setiap peradaban punya kearifan.
Nabi Nuh pun pernah dialog. Dengan langit dan bumi. “Hai langit, tahan (hujanmu)! Hai bumi, telan airmu” (QS. Hud: 44). Seketika hujan yang menyebabkan banjir besar berhenti. Air pun ikut surut.
Nabi Muhamad SAW, juga pernah menghalau hujan. Dengan bermohon pada Tuhan. “Hujannya di sana aja; di bukit, di lembah, di tempat tumbuh pepohonan. Jangan di sini, karena bisa merusak kami”. Begitu dalam doanya (HR. Bukhari).











