LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak memprediksi bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Kebon Kalapa, Desa Cilangkap, Kabupaten Lebak akan semakin parah.
BPBD pun meminta kepada puluhan warga Cilangkap yang menghuni 6 rumah terdampak pergerakan tanah itu untuk mengosongkan rumah mereka. Dikhawatirkan bencana itu akan mengancam nyawa mereka.
Terlebih, kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Febby Rizki Pratama, berdasarkan pengkajian pihaknya, rumah ke 6 warga Cilangkap itu sudah tidak lagi layak untuk ditinggali. Soalnya, masih berpotensi adanya pergerakan tanah di wilayah tersebut.
“Walaupun rumahnya masih ada yang bagus (tidak rusak berat,-red) namun kami tetap minta mereka untuk mengosongkan rumah. Dikarenakan tanah di area 6 rumah itu berpotensi untuk kembali turun atau amblas sehingga berbahaya jika tetap mengisi rumah itu,” katanya kepada Radar Banten, Jumat, 17 Juni 2022.
Untuk solusi jangka panjang, saat ini pihaknya tengah berencana untuk merelokasi ke 6 rumah itu ke lahan warga yang masih di Desa Cilangkap yang memiliki luas lahan sekitar 9.000 meter². Tidak hanya 6 rumah, pihaknya juga memetakan bahwa ada 15 rumah lainnya yang berpotensi terdampak pergerakan tanah di Desa Cilangkap.
“Tadi kita sudah inventarisir dampak pergerakan tanah juga lahan warga yang akan menjadi tempat relokasi, nanti kita akan kita ajukan kepada Ibu Bupati apakah nanti akan dibeli semua sekitar 9.000 meter atau hanya sekian meter. Namun apapun skenarionya kita sudah siap, termasuk untuk lahan relokasi. Bahwa itu bukan hanya untuk relokasi warga Desa Cilangkap, namun warga lainnya yang terdampak bencana alam yang mengharuskan mereka untuk melakukan relokasi,” ujarnya.
Lebih jauhnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Stakeholder terkait seperti Dinas PUPR, Perkim dan juga Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian (BBWSC3).
“Kita akan terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait, karena perihal bencana pergerakan tanah ini bukan hanya kami namun juga dari Perkim yakni tentang pembangunan rumah pasca bencana, ataupun pihak BBWSC3 tentang penanganan sungai Ciujung yang kini terus mengalami abrasi yang mana harus segera ditangani,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Agung SP











