Salah satunya Nurbaya. Ia mengungkapkan, jika cuaca ekstem itu telah mengurangi hasil tangkap ikan, bahkan ikan jenis cumi yang menjadi andalan jualan sudah tidak ada lagi sejak awal bulan Agustus.
“Sekarang nyari cumi sudah pak, ya karena ada badai itu. Padahal banyak pelanggan yang nanyain tuh,” katanya.
Selain itu harga ikan juga naik, sepeti ikan kembung yang tadinya Rp25.000 naik menjadi Rp35.000 per kilogramnya.
Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak Febby Rizki Pratama membenarkan jika saat ini wilayah Kabupaten Lebak tengah dilanda oleh cuaca ekstem. Bahkan, kini ketinggian gelombang di wilayah perairan Lebak Selatan mencapai 4 sampai 6 meter.
“Ya cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang masih sering melanda wilayah Kabupaten Lebak. Berdasarkan rilis dari BMKG, cuaca seperti itu masih akan terus melanda hingga beberapa hari kedepan,” kata Febby.
Fenomena cuaca ekstrem di musim kemarau ini terjadi, kata Febby, disebabkan oleh adanya fenomena La Nina yang sudah terjadi sejak bulan Juli 2022 lalu. Febby pun mengimbau kepada warga Lebak khususnya para nelayan untuk mewaspadai dampak dari fenomena La Nina yakni cuaca ekstrem yang bisa memicu bencana alam seperti banjir dan longsor.
“Kita juga mengimbau kepada para nelayan di Lebak selatan untuk mewaspadai adanya gelombang tinggi, karena berdasarkan rilis dari BMKG ketinggian gelombang sendiri bisa mencapai 4 sampai 6 meter. Para nelayan kita minta untuk tidak dulu melaut jika kondisi lagi kurang mendukung,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi











