“Setelah dipikir ini kan di belakang aliran sungai, kita kepikiran juga, akhirnya kita pindah ngaji dan solawatan ke dalam rumah. Dalam benak pikiran tersirat kayaknya ini ada apa gitu , melihat jam sudah menunjukan jam 08.00 pagi yang biasanya jemaah sudah pada kumpul jam 07.30 tapi ini sepi,” katanya.
Melihat jemaah pengajian sepi, kemudian melihat ke luar rumah kaget melihat sekeliling area ponpes sudah menjadi lautan.
“Astagfirullahalladzim, sekeliling ponpes sudah menjadi lautan, ternyata tetangga rumah dan warga lain sudah pada ngungsi duluan. Sementara santri terjebak di sini, sedangkan sekelilingnya ini sudah diputar oleh air, ini jalan air, tapi alhamdulilah arahnya dibelokin ke arah sana menjauh dari ponpes,” katanya
Padahal, diungkapkan Halimatussa’diyyah, secara geografis ponpes berada di dataran rendah dan berada di tepi Sungai Ciberang. Bangunan rumah warga lain berada di dataran tinggi pada hanyut terbawa banjir bandang.
“Sedangkan bangunan belakang Ponpes gak ada seidikitpun air masuk. Padahal sungai, jadi memang enggak disangka air malahan belok ke arah lain sekalipun posisi kita berada di aliran sungai,” katanya.
Pada pagi sekira jam 08.00 WIB kejadian pertama kalinya, kemudian pada pukul , 09.00 WIB, terjadi banjir bandang susulan lebih besar dan lebih dahsuar. Banjir Bandang susulan lebih besar.
“Bahkan santri juga ada sudah naik ke atas masjid, ngelihat besarnya banjir bandang sampai pingsan. Jadi ada yang pingsan lihat sekeliling dipenuhi air dan saat itulah baru saya nangis, berdoa ya Allah selamatkan anak santri karena udah keliatan tiang listrik mau roboh ke masjid, terus lihat lagi gulungan air membawa serta pohon kelapa menerjang bangunan rumah,” katanya.
Selain membawa serta kayu gelondongan, banjir bandang menghanyutkan kulas, lemari dan perabot rumah tangga lainnya. Semuanya pada hanyut.
“Alhamdulilah santri selamat semua. Termasuk jembatan Kampung Nunggul juga tidak sampai terbawa hanyut kalau sampai hanyut maka bangunan ponpes juga hanyut,” katanya.











