SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Banten terus berupaya melakukan percepatan penuruan stunting. Tidak hanya berkolaborasi dengan Pemprov Banten dan Pemkab/Pemkot, namun juga bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi dan Kabupaten/Kota se- Banten.
Plt Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Dadi Ahmad Roswandi mengungkapkan, berdasarkan Data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) yang dihimpun PK21, BPS maupun Kemensos tercatat dari 12 juta lebih penduduk Banten, 999.402 keluarga di Banten mengalami kemiskinan ekstrem yang tersebar di 8 kabupaten/kota, sedangkan dilihat secara individu, kemiskinan ekstrem mencapai 4.109.807 orang atau sepertiga penduduk Banten mengalami kemiskinan ekstrem.
“Sementara itu ada 1,3 juta keluarga stunting, dengan prevelensi stunting sebesar 24,5 persen di Provinsi Banten, oleh karenanya perlu ada upaya bersama agar kasus stunting dapat turun menjadi 14 persen di tahun 2024, yang artinya setiap tahunnya harus ada penurunan sebanyak 4 persen,” kata Dadi kepada wartawan usai rapat koordinasi pengendalian kasus stunting di Banten, Kamis (13/10/2022).
Salah satu upaya BKKBN untuk mendorong keterlibatan semua pihak dalam menanggulangi kasus stunting, dengan melibatkan Baznas menjadi badan penyaluran dana pada program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) kepada Tim Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).
DASHAT merupakan pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga beresiko stunting, yaitu calon pengantin, ibu hamil dan menyusui, baduta dan atau balita terutama pada keluarga yang kurang mampu.
“Kami telah bekerja sama dengan Baznas provinsi dan kabupaten/kota se-Banten sekaligus menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Penurunan Stunting dengan instansi terkait di Banten,” tuturnya.











