LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Menparekraf Sandiaga S Uno melakulan kunjungan ke desa Kanekes, yang jadi wilayah pemukiman suku adat Baduy yang berada di Kecamatan Leuwidamar, Sabtu (15/10/2022).
Dalam kunjungan ini, Menparekraf menyempatkan diri untuk mengunjungi Kampung Gajebo, yang jadi salah satu icon wisata suku adat Baduy itu. Ia menempuh perjalanan kaki dengan jarak 2,3 Kilometer (Km) untuk mencapai wilayah Kampung Gajebo yang mana disana terdapat jemhatan bambu yang melintang diatas bantaran sungai Cibarani.
Ia berhasil mencapai kampung itu setelah melakukan perjalanan kaki satu jam lamanya, ia pun menjadikan Menteri satu-satu nya yang pertama kali menginjakan kaki di kampung Gajebo itu. Tidak hanya berswafoto dan berbincang dengan masyarakat Baduy, Sandi juga menyempatkan dirinya untuk mengikuti salah satu tradisi warga Kanekes, yaitu Ngasek atau menanam padi didaerah pegunungan.
“Saya juga menjadi Menteri Pertama yang datang ke Kampung Gajebo, dan saya kembali lagi terus melakukan Ngasek atau menanam padi bersama masyarakat Baduy, dengan cara tradisional,” kata Sandi saat berada di Kampung Kadu Ketug, Desa Kenekes, Baduy.
Sandi mengatakan, kunjungannya ke wilayah suku adat Baduy ini adalah dalam rangka promosi dan penutupan penilaian Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2022. Ia ingin, kunjungannya ini dapat mempromosikan Baduy sebagai salah satu Desa yang masuk dalam kategori 50 Desa Wisata terbaik versi ADWI 2022.
Menurutnya, Baduy merupakan daerah yang kaya akan potensi alam, khususnya perihal keasrian alam yang masih terjaga hingga saat ini. Hal itu terbukti dalam perjalanannya menuju kampung Gajeboh, yang mana dalan setiap perjalanannya dia melihat keindahan alam Baduy yang masih terjaga dengan baik.
“Saya jalan ke Kampung Gajeboh, saya juga diberi tahu sama Ayah Mursid, dan di kasih juga jahe meran, selain itu di kasih duren dan kelapa,” ujarnya.
Selain kekayaan alam, Baduy juga memiliki daya tarik utama lainnya yakni kentalnya kebudayaan yang mereka pertahankan dari zaman leluhur hingga saat ini. Menurutnya, salah satu kebudayaan yang mereka jaga hingga kini telah membuat mereka lolos dari dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).
” Semakin yakin potensi Kabupaten Lebak, ini bisa kita jadikan destinasi wisata unggulan. Mulai dari budaya, keramahtamahan warganya, kulinernya, hingga kearifan lokal dan kerajinan tangannya dipastikan mampu mendorong kebangkitan ekonomi dan terciptanya lapanhan kerja,”ucapnya.
Dirinya menambahkan saat mengikuti ngasek atau menanam padi, menyampaikan harapannya agar padi yang ditanam bisa memberikan berkah bagi masyarakat Suku Baduy.
“Dalam waktu enam bulan kemudian akan panen dan mudah-mudahan membawa berkah. Setelah itu keliling disini dan mendengarkan masukan-masukan dan saya semakin yakin bahwa Destinasi Wisata Saba Baduy bisa kita jadikan destinasi wisata unggulan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Sandi juga memberikan bantuan berupa tempat sampah dan tempat cuci tangan portable sebagai bentuk dukungan Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan) alias CHSE Desa Wisata Baduy.
Ia pun meminta keterlibatan dan kerjasama semua pihak dalam menjaga kelestarian Budaya di Baduy ini. Ia tidak ingin, Baduy yang kaya akan potensi kearifan lokal ini hilang tergerus zaman.
“Harus dijaga, agar kita mewariskan ke anak cucu kita dan juga mensejahterakan masyarakat Kabupaten Lebak,” pintanya.
Bupati Iti Octavia Jayabaya mengatakan, kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno telah menjadi motivasi bagi Pemda Lebak yang kini tengag terus menggali potensi pariwisata di Kabupaten Lebak. Kata Iti, Lebak memiliki visi misi yaitu untuk menjadi destinasi wisata nasional berbasis potensi lokal unggulan yang mana di Lebak terdapat berbagai potensi pariwisata juga ekonomi kreatif seperti Baduy juga motif batiknya.
“Kita harap pertunbuhan sektor pariwisata ini bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat khususnya warga Baduy. Untuk itu mari kita terus kembangkan budaya lokal juga ekonomi kreatifnya,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: A Rozak











