“Saya tidak bisa membayangkan kalau kita membaca sejarah hidup Nabi Muhammad karangan Husain Haekal yang tebalnya 500-600 halaman, kemudian kita membacanya di handphone yang kecil itu, mata kita pasti sakit dan akhirnya menambah minus atau plus di mata,” ujar Benyamin.
Benyamin juga mendorong agar kaum milenial dapat terlibat aktif dalam mengisi tulisan di koran dan majalah untuk mengasah kemampuan menganalisa suatu persoalan.
“Syukur kita semua bukan hanya membudayakan membaca tapi juga bisa menulis. Bisa mengisi tulisan-tulisan di koran. Nah, ini lebih bermanfaat lagi,” ucapnya.
Lebih jauh Benyamin mengatakan akan mendukung kegiatan “Garakan Indonesia Membaca” yang diinisiasi oleh insan pers dan melibatkan pelajar dan mahasiswa.
Ditempat yang sama Ketua Panitia SPS Banten Helmi Halim mengatakan, kegiatan “Gerakan Indonesia Membaca” juga digelar dalam rangka memperingati HUT Tangsel ke-14. Selain itu, kegiatan ini juga akan dilanjutkan di 8 Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten.











