“Memang ada potensi sulit bersaing di Banten, baik itu Prabowo maupun Ganjar sekali pun yang lawan Anies. PDIP dan Gerindra harus fight dan hardwork karena kompetitornya cukup kuat dan tidak bisa dianggap enteng,” paparnya.
Dikatakan Sururi, kunci kemenangan Anies di Banten nanti juga ditentukan dari pola dan langkah politik Koalisi Perubahan selanjutnya, dimana Demokrat dan PKS tidak saling mengunci dan tarik menarik dukungan untuk posisi bakal Cawapres Anies.”Saya melihat selama ini penentuan bakal cawapres Anies menjadi deadlock sehingga deklarasi Koalisi Perubahan mengalami jalan berliku,” tuturnya.
Disisi lain, tidak ada figur bakal cawapres yang dianggap solid dan mampu mendekati elektabilitas Anies, baik itu AHY maupun kader senior PKS. “Opsi jalan tengah untuk tidak memilih cawapres dari Demokrat dan PKS mungkin bisa jadi solusi, sambil nanti ada bargain position bagi Demokrat dan PKS jika Anies menang Pilpres 2024,” pungkas Sururi.
Sementara Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul menilai, koalisi ketiga partai pengusung bakal capres Anies Baswedan kurang greget. Alasannya, karena ada PKS baru secara resmi mendukung Anies Baswedan pada Februari 2023 mendatang. “Koalisi ini belum fix. Seolah olah jatahnya NasDem dan seolah olah dipaksa. Koalisi ini masih tarik ulur. Tarik ulurnya begitu kuat,” kata Adib Miftahul, kemarin.
Menurut Adib, PKS dan Demokrat terlihat memiliki visi dan misi yang seirama. Ini bisa dilihat sikap kedua parpol itu memilih menjadi oposisi saat periode kedua Presiden Jokowi. “Saya kira DNA untuk cawapresnya sesuai dengan yang Demokrat dan PKS pakai. Yakni ada ada AHY dan Aher,” katanya. (den-nna/nda)










