Setelah matang berikut lauk pauknya,
Ketika qunutan, warga saling berbagi ketupat berikut lauknya dengan tetangga. Kemudian, membawanya ke masjid atau musala sebagai sedekah.
Ketupat ini ada yang dihidangkan dan dimakan bersama-sama pada saat buka puasa bersama di masjid. Ada juga yang selepas salat Tarawih.
Sebelumnya, warga melakukan doa bersama. Bermunajat kepada Allah SWT agar dapat menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh dan dapat berjumpa dengan Idul Fitri.
Ketupat yang dibawa ke masjid, selain dimakan bersama-sama, ada juga yang dibagikan kembali kepada para jemaah untuk dibawa pulang. Tradisi qunutan dan berbagi ketupat, secara tidak langsung membudayakan sedekah makanan setiap Ramadan.
AMALAN SAAT QUNUTAN
Amalan yang bisa dikerjakan saat sudah memasuki pertengahan bulan Ramadan hingga akhir Ramadan, yakni saat salat Witir, hendaknya membaca doa Qunut sebagai tambahan. Doa ini biasanya dibaca di akhir rakaat salat Witir yang dikerjakan setelah salat Tarawih.
Dikutip dari Khazanahimani.com, awal mula doa Qunut salat Witir sejak masa khalifah Umar bin Khattab. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW ini merupakan khalifah umat muslim kedua karena menggantikan Abu Bakar yang meninggal dunia.
Khalifah Umar bin Khattab banyak memiliki jasa kepada perkembangan Islam. Keistimewaan Umar Bin Khatab menjadi pempimpin umat Islam, termasuk perihal pelaksanaan salat Tarawih.
Umar Bin Khatab yang memilki inspirasi dan mampu mengumpulkan para sahabat salat Tarawih dalam satu masjid dengan satu imam. Diriwayatkan dari ‘Abdurrohman bin ‘Abdul Qori berkata:
“Aku keluar ke masjid pada bulan Ramadan bersama Umar bin Khatthab, lalu ditemukan dalam masjid tersebut yaitu beberapa orang yang salat Tarawih dengan bermacam-macam. Sebagian orang salat Terawih munfarid, namun untuk sebagian orang juga melakukan salat Terawih secara berjamaah”.
“Kemudian, saat itu Umar berkata: Aku punya pendapat mengenai kebaikan salat Terawih ini, andai saja jika mereka aku jadikan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.”
“Lalu, Umar bin Khattab mengumpulkan orang yang sedang salat tersebut dengan Ubay bin Ka’ab, yakni sebagai imam salat.”
“Pada malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang yang kemarin salat berbeda-beda kini sudah melaksanakan salat Tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam.”
“Dan, Khalifah Umar Bin Khatab berkata: Sebaik-baiknya bid’ah yang kalian kira ialah adalah ini (menunjuk kepada orang yang sedang salat Tarawih secara berjamaah)”.
Namun, untuk awal mula adanya qunut pada salat Witir terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Juraij, mengatakan:
“Saya bertanya kepada Atha’mengenai qunut, ‘Apakah qunut itu dilakukan hanya pada pertengahan bulan Ramadan?’. Beliau menjawab: orang yang pertama kali melakukan qunut ketika salat Witir saat pertengahan Ramadan ialah Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu.” (drp/don)












