SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Bank Sampah Digital (BSD) yang didirikan sejumlah anak muda bekerjasama dengan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Serang untuk menangani sampah di masyarakat.
BSD yang telah berdiri sejak Desember 2020 tersebut, memiliki akses langsung untuk mensuplai sampah kertas sebagai bahan baku kertas daur ulang (KDU) ke PT Indah Kiat Pulp and Paper.
Head of Corporate Sosial Responsibility PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Serang Dani Kusumah mengatakan, BSD dapat dikatakan sebagai mitra IKPP Serang.
Jika dilihat dari input sampah yang diterima memang tidak seberapa, sebab Indah Kiat punya kebutuhan sehari bisa ratusan bahkan ribuan ton. “Sementara BSD hanya puluhan ton sebulan,” ujarnya, Selasa 18 April 2023.
Tapi kata Dani, pihaknya tidak melihat dari sisi tonase yang diterima, namun semangat, konsep dan strategi yang diambil BSD. Sebab yang dilakukan BSD strategi nya adalah melakukan penjaringan di berbagai wilayah utamanya di Kabupaten dan Kota Serang.
Kemudian sampah itu diambil tiap bulan dan dipilah mana sampah kertas dan plastik serta organik. “Itu yang menarik, untuk sampah kertas masuk kita. Pada saat masuk ke kita disampaikan informasinya bahwa strategi untuk masuk ke kita supaya nilai jual tinggi harus dipilah, sampah coklat, warna, kertas putih itu dipilah jadi nilai makin tinggi,” ucapnya.
Selain itu BSD juga diberi pembelajaran oleh Indah Kiat mengenai kadar moisture atau tingkat kelembapan air nya. Sebab banyak kenakalan yang terjadi selama ini, dimana sampah dicampur air lalu dibungkus, kadang kardus diberi air sehingga beratnya bertambah.
Sampai saat ini total sampah yang sudah disuplai ke Indah Kiat sebanyak 16 ton. Mereka melakukan kegiatan dari nol, sejak tidak ada hubungan kerja sampai bisa masuk langsung. Saat ini posisi BSD menjadi suplier sehingga harga jual sampahnya sama dengan suplier, dan dijemput oleh perusahaan sebagai bentuk kepedulian pada BSD.
Ke depan pihaknya berencana untuk sosialisasi ke sekolah dan dunia usaha. Agar ikut menggalakkan kampanye lingkungan, sebab dari sisi edukasi pemanfaatan kertas daur ulang memiliki sisi ekonomi luar biasa dan fantastis. Selama beroperasi, BSD pun dipastikan tidak ada gesekan dengan pemulung atau pihak lainnya.
“Jadi peluang disana banyak, kita adalah mitra, kedepan akan dikembangkan dalam bentuk kegiatan CSR, karena ada sisi humanis ada sisi CSR. Bukan hanya bicara bisnis to bisnis,” ucapnya.
Dani mengatakan, pembayaran sampah dari Indah Kiat ke BSD dilakukan melalui koperasi Karyawan Indah Kiat. Setelah itu koperasi melakukan tagihan ke Indah kiat sama halnya dengan suplier, dimana untuk kertas coklat harganya kisaran Rp2.200-2.500 per kilogram, sedangkan kertas putih lebih tinggi lagi. “Hasil evaluasinya bagus karena mereka (BSD) profesional,” ucapnya.
CEO BSD Desty Eka Putri Sari mengatakan, BSD merupakan sosial enterprise, perusahaan pengolah sampah kering berbasis pemberdayaan. Saat ini sudah ada 200 titik di Serang raya, tersebar di Kabupaten Serang 41 titik, Kota Serang 117 titik, dan Cilegon 31 titik.
Bank sampah lahir sejak Desember 2020 atau sudah berumur 3 tahun. Pada penghujung 2022, pihaknya bermimpi bank sampah induk bisa suplai kertas daur ulang langsung ke industri.
Mimpi tersebut disambut oleh PT Indah Kiat Pulp and Paper. Dirinya tahu bahwa Indah Kiat skala produksi nya besar, dan biasa menerima sampah ratusan ton. Sedangkan BSD fokus pengolahan sampah di hulu.
“Jadi nasabah kami tingkat hulu ada komunitas RT RW, ibu arisan, pengajian, hotel, restoran dan kafe yang totalnya sudah ada 14. Sekarang kafe buka titik BSD juga. Sampahnya ditimbang ke BSD, itu untuk diputar jadi modal mereka lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, BSD digerakkan oleh 11 anak muda rentang usia 22 sampai 35 tahun. BSD punya visi agar lingkungan lestari masyarakat sejahtera 2045.
Ia mengatakan, kerja sama dengan Indah Kiat selain meningkatkan legitimasi sisi kelembagaan. Akan tetapi juga kerjasama multi pihak agar dapat capaian bersama.
“Bicara selisih tentu akan lebih besar kalau kita menjual ke lapak atau suplier. Tapi bukan itu sekali lagi fokusnya. Tapi soal keterbukaan akses jadi penting buat kami dan praktek baik tentu saja untuk pelaku bisnis serupa,” katanya.
Desty mengatakan nasabah BSD hampir 3.500 orang adalah ibu ibu dan kalangan menengah ke bawah. BSD bisa bertahan sejak 2020 karena usai dibentuk terus bergerak, dimana BSD tiap bulan menjemput sampahnya sembari menanyakan pada nasabah apa kebutuhannya.
Reporter : Abdul Rozak
Editor : Mastur











