TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID ,- Jay Suratman (50) seorang kelompok tani PT TUM yang berada di Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga tidak menyangka kalau bertani itu menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan.
Kepada RADARBANTEN.CO.ID, dirinya mengaku belajar bertani dari tahun 2004, dan mulai membudidayakan Melon Alisha sekitar tahun 2016.
Namun katanya, dalam membudidayakan Melon Golden Alisha sebelumnya harus mempersiapkan pasar dulu.
“Jadi ketika panen Melon Golden Alisha, kami gak khawatir mau di jual kemana, saking ada supermarket maupun toko yang sudah membelinya,” ujarnya 9 Juni 2023.
Kata Jay, untuk masuk pasar supermarket pastinya ada standardisasi buah, seperti pada buah Melon Golden Alisha ini. Juga ada klasifikasinya, seperti klasifikasi kelas A, B dan C.
“Jika tidak masuk klasifikasi tersebut, Melon Alisha akan kami jual ke pasar tradisional, itu pun Melonnya masih layak di konsumsi, karena hanya buahnya saja yang kecil dan agak tidak bulat,” ungkapnya.
Selain itu, Melon Golden Alisha seperti yang ada ini, daging buahnya sangat manis, dan terasa garing jika dimakannya.
“Melon Golden Alisha yang ada disini dijual di wilayah Jabodetabek saja, namun sebagian besarnya sudah terbang ke Singapura,” terangnya.
Sebab katanya, permintaan negara Singapura sangat banyak terhadap Melon Golden Alisha ini.
“Nah, Singapura sendiri permintaan untuk Melon jenis Butternut sebulan bisa 10 ton, dan Melon Golden Alisha bisa mencapai 50 ton,” ucapnya.
Selain Singapura, lanjut Jay. Pemintaan juga datang dari negara Timur Tengah, namun permintaan mereka tersebut berupa buah Melon Golden Alisha dan Butternut biasa di campur dengan buah lainnya.
“Namun untuk memenuhi permintaan pasar lokal saja saya sudah kewalahan, karena satu pasar modern itu membutuhkan Melon Golden Alisha dan Butternut sekitar masing-masing 5 ton,” pungkasnya
Reporter: Mulyadi
Editor: Abdul Rozak











