SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mencatat, per 23 Agustus 2023, ada 1.739,5 hektare sawah di Banten yang mengalami kekeringan.
Jumlah itu terdiri dari kondisi ringan 1.417 hektare, sedang 271,5 hektare, berat 30 hektare, dan puso 21 hektare.
Kepala Distan Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya mitigasi agar sawah yang mengalami kekeringan ringan tidak menjadi sedang, sedang tidak menjadi berat, dan berat tidak menjadi puso.
“Sehingga yang puso tidak bertambah,” ujar Agus, Selasa, 29 Agustus 2023.
Sebelum puncak El Nino, ia mengaku, Distan Provinsi Banten dan BMKG menggelar Sekolah Lapangan Iklim.
Dalam Sekolah Lapangan Iklim itu, petani diajarkan memahami bahasa iklim, memahami fenomena atau ciri-ciri iklim, dan aksi.
“Sudah diprediksi, menurut BKMG akan terjadi puncak El Nino di bulan Agustus. Berarti penyuluh memberikan informasi kepada petani untuk menghindari jangan sampai ada pertanaman yang butuh air di bulan Agustus. Berarti tanam paling lambat di bulan Mei. Dan itu terbukti di Lebak. Panen raya di bulan Juni-Juli. Pas El Nino, banyak yang kering, tapi sudah panen,” terangnya.
Selain Sekolah Lapangan Iklim, Agus mengaku, pihaknya juga memberikan bantuan pompa air bagi petani di wilayah yang memiliki sumber air permukaan, yakni berupa bendungan, sungai, atau danau.
Namun, apabila sumber air permukaan tidak ada, maka pihaknya akan membuatkan sumur pantek pada APBD Perubahan nanti. Rencananya, ada 150 titik sumur pantek.
“Kami akan prioritaskan. Itu merupakan investasi jangka menengah dan panjang, supaya ke depan, kalau siklus berulang, sudah ada persiapan,” ujarnya.
Kalaupun tidak ada siklus El Nino, para petani bisa menggunakannya saat musim kemarau. (*)
Reporter : Rostinah
Editor: Agus Priwandono












