Sosok Khofifah disebut berpotensi karena bisa mendongkrak suara Prabowo di Jawa Timur yang berbasis NU. Hal itu sama dengan apa yang dilakukan oleh Koalisi Perubahan yang mengusung Cak Imin untuk mengamankan suara NU di daerah Jawa.
“Jadi memang suara NU ini tengah diperebutkan, Anies memilih Cak Imin karena untuk melengkapi suara di Jawa Timur yang berbasis NU, sama halnya Ganjar yang juga memasang Mahfud MD sebagai Cawapresnya. Kedua capres itu saling mengisi, maka Prabowo juga harusnya sama seperti itu,”ucapnya.
Khofifah juga disebut memiliki beragam prestasi yang membanggakan, beda halnya dengan sosok Gibran. Walaupun berpotensi untuk menjadi Cawapres Prabowo, namun Gibran dinilai masih kurang dari segi politik dan prestasinya belum dapat teruji.
“Saya belum melihat ukuran yang jelas itu dari Gibran ini selain dia merupakan Walikota Solo dan Putera Mahkota Presiden. Mungkin di Solo iya, tapi tidak di daerah lain, sehingga yang tetap jadi kuncinya hanya ada di Prabowo,” terangnya.
Selain sosok yang dapat meningkatkan elektabilitas di Jawa Timur, Prabowo juga membutuhkan sosok non militer. Sosok itu haruslah melengkapi Prabowo yang sudah piawai dalam mengatur stategi militer.
“Prabowo juga harus didampingi oleh sosok non militer untuk mengimbangi pengetahuannya seperti dibidang hukum maupun ekonomi. Dan mungkin dibidang hukum ada nama Yusril, sementara dibidang ekonomi ada Erick Thohir,” ungkapnya.
Sururi mengaku masih terus menunggu last minute dari dinamika politik saat ini. Siapapun Presiden dan Wakil Presidennya, ia berharap sosok itu dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh warga di negara ini.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Abdul Rozak











