LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Seorang bapak bersama lima anak orang anaknya di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, mengalami kebutaan. Hingga saat ini mereka belum diketahui penyebabnya.
Winah (55), warga Kampung Cipasung, menuturkan, suamnya bernama Rusmani (70) dan lima anaknya yaitu Rohimi (50), Hindun (40), Maesaroh (35), Junaedi (34), dan Kokom (27) mengalami kebutaan. “Kami punya delapan anak, yang buta lima orang, termasuk suami,” ungkap Winah kepada wartawan di rumahnya, Kamis (26/10).
Winah menjelaskan, mata Kokom normal sejak lahir. Namun kebutaan terjadi sejak empat tahun lalu. Ia tidak mengetahui penyebab anggota keluarganya tidak bisa melihat.
Pada kesempatan itu, Kokom menuturkan, sebelum buta hanya merasakan pusing. “Awalnya gitu, pusing-pusing sampai gak bisa lihat. Udah empat tahun, sampe saya punya anak dua,” ungkap Kokom.
Kokom tidak mengetahui penyebab kebutaan. Namun sudah pernah mencoba berobat, namun tidak mendapat jawaban yang pasti dari dokter.
“Dibilangnya tidak bisa diobati saja karena sudah buta. Kami tidak bisa terus menerus berobat juga karena tidak ada biaya,” lanjutnya.
Sementara Rusmani mengaku mengalami kebutaan pada tahun 2000. “Dulu masih normal, bisa melihat dan seingat saya sekitar 20 tahun lalu hilang penglihatan,” kata Rusmani.
Sebelum mengalami kebutaan, Rusmani mengeluhkan rasa sakit di matanya dan pusing. Lalu matanya berair dan pandangan kabur. Kemudian tidak bisa melihat sampai saat ini. “Mata perih dan sakit kepala terus-terusan, setelah itu mata tidak bisa melihat,” ungkapnya.
Sementara lima anaknya yang mengalami kebutaan, waktunya tidak bersamaan. Rohimi pada 2012, Hindun pada 2014, Maesaroh pada 2015, Kokom pada 2018, dan terakhir Junaedi pada 2020.
Saat ini Rusmani dan istri bersama enam anaknya tinggal bersama dalam satu rumah. Sementara Rohimi dan Maesaroh tinggal bersama suaminya karena sudah berumah tangga.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Rusmani dan Winah bekerja sebagai buruh tani. Sementara untuk memasak dan menyiapkan keperluan rumah dilakukan oleh Romlah, anak terakhir Rusmani.
“Kadang juga ada panggilan pijat, ya sebisa-bisa saja bertahan hidup untuk menambah kebutuhan sehari-hari,” kata Rusmani. Selain itu, lanjut Rusmani, keperluan hidup mengandalkan bantuan dari pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
Reporter : Nurandi
Editor : Aas Arbi












