SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Aktifitas Gunung Anak Krakatau (GAK) hingga saat ini masih berstatus siaga atau level tiga. Hal itu dikarenakan letusan masih sering terjadi.
Diketahui GAK sendiri pertama kali menunjukan aktivitas vulkaniknya sejak 26 November 2023. Letusan tersebut terekam oleh alat yang dipasang di pos pemantau yang berlokasi Pasauran, Anyer.
Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) Deni Mardiono menyatakan, jika aktifitas vulkanik dari GAK saat ini masih cukup tinggi. Masih sering terjadi letusan dan gempa-gempa baik gempa tremor ataupun gempa erupsi.
“Untuk aktivitas saat ini masih tinggi ditandai dengan terekamnya gempa tremor dan kemudian ada gempa erupsi atau letusan yang terekam terakhir pada pukul 09.56 WIB itu dengan ketinggian kolom asap 1.500 meter dari puncaknya dengan warna hitam tebal,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin 4 Desember 2023.
Ia mengatakan, untuk jumlah letusan per harinya masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil rekapitulasi data pada tanggal 3 Desember 2023, kurang lebih terjadi sebanyak 12 kali letusan yang terjadi pada hari tersebut.
“Untuk satu hari kemarin tanggal 3 Desember rekap laporan per harinya sampai dengan pukul 24.00 WIB jumlah letusannya kurang lebih 12 kali letusan,” jelasnya.
Sementara untuk hari ini terhitung sejak pukul 00.00 hingga pukul 11.33 WIB, sudah terjadi sebanyak 7 kali letusan.
Deni mengatakan, pihaknya pun telah menentukan jarak aman yang tentunya dapat dipatuhi oleh masyarakat untuk tidak mendekati radius 5 kilometer dari kawah aktifnya. Ia pun mengatakan untuk wisatawan di Anyer dan Cinangka tentunya aman dari erupsi GAK.
“Jadi selebihnya dari 5 kilometer itu aman dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Jadi Wisatawan Anyer dan sekitarnya aman dari erupsi, jadi bukan aman dari gelombang lautnya, beda lagi kita hanya menangani tentang gunung api,” tegasnya.
Untuk memantau aktivitas GAK, pihaknya sudah memasang kurang lebih sebanyak 8 alat yang dapat memantau aktivitas GAK selama lebih 24 jam.
“Alat yang kita pasang untuk memantau GAK ada 3 titik di tubuhnya, kemudian 5 titik di sekitaran pulau Panjang, Rakata dan Sertung. Jadi kurang lebih ada 8 peralatan yang dipasang untuk memantau GAK, baik untuk segi kegempaannya, untuk deformasinya maupun untuk visual yaitu CCTV,” terangnya.
Lebih lanjut ia berpesan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan isu-isu hoax yang beredar tentang GAK. Pihaknya pun meminta agar masyarakat mengikuti imbauan dari pemerintah khususnya BPBD setempat.
“Masyarakat tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat, tetap mematuhi rekomendasi yang kita keluarkan bahwa masyarakat atau wisatawan untuk tidak mendekat dalam radius 5 KM dari kawah, selama level siaga atau level 3 dari Anak Krakatau,” jelasnya.
Ia mengungkapkan belum dapat memprediksi kapan aktivitas vulkanik dai GAK akan berakhir. Namun pihaknya meminta agar masyarakat tetap tenang dan dapat mengakses informasi yang valid melalui aplikasi Magma Indonesia.
“Kalau dilihat dari kegempaannya masih menunjukan peningkatan, dari berbagai peralatan trennya masih naik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramadhani
Editor: Agung S Pambudi











