SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Awal tahun ini, wilayah Provinsi Banten diprediksi akan mengalami defisit terhadap produksi beras. Produksi beras pada Januari dan Februari 2024 tidak akan mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat di Banten.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Banten, Agus M Tauchid, membenarkan hal itu. Katanya, kebutuhan konsumsi beras per bulan sebesar 119.677 ton. Sementara, produksi beras pada Januari diperkirakan hanya 73.132 ton.
“Betul, Banten mengalami defisit di bulan Januari sebesar 73.436 ton beras. Namun prognosa di bulan Maret produksi padi Banten mulai mencapai surplus,” ujar Agus, Senin, 15 Januari 2024.
Agus mengatakan, defisit produksi beras pad Januari 2024 disebabkan oleh kurangnya hasil panen para petani yang dilakukan saat masa tanam bulan November 2023.
Ia menyebut bahwa situasi ini bukan terjadi di Banten saja, namun juga terjadi dalam skala nasional di berbagai provinsi lain.
“Situasinya sama secara nasional karena akibat tanam di November dan Desember (2023), maka panen yang baru dilakukan di bulan Januari 2024 belum optimal. Karena kita ketahui sendiri di bulan itu situasi kita masih El Nino sehingga hanya sedikit lahan yang melakukan masa tanam,” ujarnya.
Agus menuturkan, untuk menutupi defisit itu, Pemerintah sudah menyiapkan beras impor dan juga menurunkan beras cadangan Pemerintah atau beras SPHP ke pasaran. Hal itu pun telah ampuh menekan harga beras.
“Kita prediksi bahwa harga beras di Banten akan menjadi landai di bulan Maret nanti,” tuturnya.
Meski demikan, Agus mengatakan, produksi beras akan kembali mengalami surplus pada Maret 2024. Sebab, saat ini para petani sudah bisa memanfaatkan hujan untuk menanami lahan persawahannya.
“Kita Januari ini puncak hujan atau curah hujan cukup tinggi, maka ini dapat memberikan kontribusi untuk panen di Maret,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











