CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon memasang alat khusus untuk memantau kondisi udara paska terjadinya pencemaran pada Sabtu 20 Januari pagi.
Alat khusus itu dipasang di tiga titik tertentu yang dinilai terdampak oleh pencemaran udara tersebut.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup pada DLH Cilegon, Andhi Rhana menjelaskan, alat yang dipasang yaitu HVaS atau High Volume Air Sampler untuk mengukur partikel debu atau Particulate Matter (PM).
Alat ini digunakan untuk mengukur Total Suspended Particulate (TSP), PM10 dan PM2.5.
Alat kedua yang dipasang yaitu Implinger untuk mengukur kadar gas-gas seperti ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan karbon monoksida (CO).
“Alat ini dipasang di tiga titik, yaitu di Chandra Asri, Jalan Ali Hasan Lingkungan Warung Kara, dan Lingkungan Dermaga Malang, Kelurahan Gerem,” papar Andhi, Minggu 21 Januari 2024.
Hasil dari pemantauan menggunakan alat itu akan dikaji oleh tim dari laboraturium independen yang sudah bekerjasama dengan DLH Kota Cilegon.
Hasil laboraturium itu kemudian akan menjadi dasar Walikota Cilegon Helldy Agustian untuk menetapkan kebijakan selanjutnya.
“Alat ini dipasang 24 jam. Kami minta pihak laboraturium untuk memberikan hasil secepatnya karena ini berkaitan dengan keselamatan masyarakat,” ujar Andhi.
Pemasangan alat dilakukan pada Sabtu 20 Januari malam. Diharapkan hasil laboraturium bisa diterima Pemkot Cilegon pada Senin atau Selasa mendatang.
Diketahui, bau kimia terjadi di Kota Cilegon pada Sabtu 20 Januari 2024 yang berasal dari pabrik Chandra Asri di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.
Dampak dari pencemaran udara itu terasa di beberapa kecamatan di Kota Cilegon, seperti Ciwandan, Citangkil, Purwakarta, Grogol, dan Pulomerak.
Akibat pencemaran itu masyarakat alami gangguan pernafasan dan beberapa diantaranya harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas setempat.
Reporter: Bayu Mulyana
Editor: Aditya

