SERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Penggunaan ponsel, komputer, tablet, hingga televisi dalam waktu lama dapat memicu digital eye strain atau kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital. Kondisi ini ditandai dengan sejumlah keluhan, mulai dari mata kering dan perih hingga penglihatan buram, sakit kepala, serta ketegangan pada leher dan bahu.
Dokter Spesialis Mata Bethsaida Hospital Serang, dr. Rina W., Sp.M mengatakan, keluhan akibat penggunaan layar berlebihan cukup banyak ditemukan pada pasien dari berbagai kelompok usia.
Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa keluhan pada mata yang dialami sehari-hari dapat berkaitan dengan kebiasaan menggunakan perangkat digital dalam durasi panjang.
“Digital Eye Strain adalah epidemi senyap di era modern. Hampir setiap pasien yang datang konsultasi dengan saya dari anak-anak hingga orang dewasa memiliki pola penggunaan layar yang melebihi batas yang nyaman bagi mata,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab digital eye strain adalah berkurangnya frekuensi berkedip ketika seseorang terlalu fokus menatap layar. Padahal, berkedip berfungsi menjaga kelembapan permukaan mata sekaligus membantu membersihkan debu dan partikel kecil.
Ketika frekuensi berkedip menurun, mata dapat menjadi lebih kering, perih, hingga mengalami iritasi. Mata juga terus bekerja mempertahankan fokus ketika melihat objek dalam jarak dekat sehingga berpotensi mengalami kelelahan.
Gejala digital eye strain dapat berbeda pada setiap orang. Keluhan yang umum muncul antara lain mata terasa panas, perih, gatal, seperti kemasukan pasir, mata merah, sulit fokus, mudah silau, penglihatan buram sesaat, dan sakit kepala.
Ketegangan akibat penggunaan perangkat digital juga dapat dirasakan pada area dahi, kepala, leher, bahu hingga punggung. Kondisi tersebut pada sebagian orang dapat mengganggu konsentrasi setelah beraktivitas di depan layar dalam waktu panjang.
Selain durasi penggunaan, posisi tubuh dan pengaturan perangkat juga perlu diperhatikan. Layar yang terlalu tinggi atau rendah, pencahayaan yang tidak sesuai, serta meja dan kursi yang kurang ergonomis dapat menambah ketegangan pada mata dan tubuh.
Digital eye strain dapat dialami siapa saja. Namun, pekerja yang sehari-hari menggunakan komputer, pelajar dan mahasiswa, serta anak-anak dan remaja yang rutin menggunakan gadget termasuk kelompok yang perlu lebih memperhatikan kebiasaan penggunaan layar.
Orang dengan gangguan refraksi seperti miopia, hipermetropi, atau astigmatisme yang belum mendapatkan koreksi penglihatan secara tepat juga perlu mewaspadai keluhan yang muncul.
Dr. Rina mengatakan, keluhan mata dan sakit kepala yang berlangsung lama terkadang juga berkaitan dengan koreksi penglihatan yang belum sesuai.
“Yang sering saya temui adalah pasien yang sudah bertahun-tahun mengalami sakit kepala atau mata perih hampir setiap hari, dan menganggap itu sebagai hal biasa. Ternyata setelah dievaluasi, ada koreksi kacamata yang belum tepat, ditambah dengan kebiasaan layar yang perlu dibenahi,” jelasnya.
Salah satu langkah sederhana untuk membantu mengurangi kelelahan mata adalah menerapkan aturan 20-20-20. Setelah menatap layar selama 20 menit, pengguna dapat mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama sedikitnya 20 detik.
Kebiasaan berkedip juga perlu dijaga untuk membantu mempertahankan kelembapan mata. Penggunaan air mata buatan dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga medis.
Pengaturan posisi layar juga penting. Jarak layar dapat ditempatkan sekitar 50 hingga 70 sentimeter dari mata, sementara bagian atas layar sebaiknya berada sedikit di bawah level mata.
Pengguna perangkat digital juga disarankan menyesuaikan tingkat kecerahan layar dengan kondisi lingkungan, mengurangi pantulan cahaya, serta memastikan pencahayaan ruangan memadai.
Pemeriksaan mata secara berkala juga penting, khususnya bagi pengguna kacamata. Koreksi penglihatan yang sudah tidak sesuai dapat membuat mata bekerja lebih keras ketika melihat layar.
Keluhan digital eye strain umumnya dapat berkurang setelah mata mendapatkan waktu istirahat dan kebiasaan penggunaan layar diperbaiki. Namun, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan apabila penglihatan buram tidak membaik, sakit kepala semakin sering, mata merah berkepanjangan, atau rasa tidak nyaman terus berulang.
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan pemeriksaan mata, termasuk evaluasi keluhan yang berkaitan dengan penggunaan perangkat digital serta pemeriksaan refraksi.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandy mengatakan, layanan pemeriksaan mata tersebut ditujukan untuk membantu pasien mendapatkan penanganan sesuai dengan kondisi penglihatannya.
“Oleh karena itu, Bethsaida Hospital Serang berkomitmen memberikan layanan yang komprehensif bagi pasien melalui dokter spesialis kami yang berpengalaman dan berbasis bukti agar dapat memberikan solusi yang aman dan tepat,” pungkasnya.
Editor: Agung S Pambudi












