PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Carita bersama Komunitas Peduli Pariwisata Carita (KPPC) melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di 10 desa di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang.
PSN dilakukan untuk mencegah penularan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) memyebar di wilayah Kecamatan Carita.
Sebab, 14 warga Kecamatan Carita telah terjangkit DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Kepala UPT Puskesmas Carita,
Tien Sulaisiah, mengatakan bahwa agenda hari ini, 23 Januari 2023, sesuai kesepakatan Muspika Carita dan KPPC, melaksanakan kegiatan berupa PSN di 10 desa.
“Kita ambil dua titik dulu. Untuk kasus DBD di Kecamatan Carita itu banyak kasus itu di Desa Sukanagara dan Desa Sukarame,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa, 23 Januari 2023.
Berdasarkan data sampai per hari ini, masih diobservasi di Puskesmas Carita. Totalnya itu ada 14 orang yang terkena DBD.
“Terbanyak di Desa Sukanagara karena karakteristik lingkungannya di Desa Sukanagara itu tempatnya kumuh. Banyak air tergenang dan banyak penyimpanan barang bekas,” katanya.
Di situ, identik dengan tempat hinggapnya nyamuk Aedes Aegypti. Hinggapnya di barang-barang bekas ada genangan airnya.
“Di Sukanagara, lingkungannya padat, masyarakat rumahnya juga berdempetan, itu yang berisiko, jentik nyamuknya banyak di situ. Tapi kita sudah lakukan juga fogging,” katanya.
Tien menjelaskan, tujuan dari fogging sebenarnya membasmi nyamuk besar atau yang sudah bisa terbang.
“Tujuannya itu hanya siklus nyamuk hidupnya kita basmi. Tentunya kalau hari ini fogging, besok kita lakukan lagi siklus fogging lagi, nanti kita rencana di hari Jumat kita lakukan fogging lagi karena siklus akan bermunculan untuk nyamuk yang hidup atau dewasa,” katanym
Sementara ini, tanpa dilakukan PSN, nyamuknya tidak akan pernah selesai. Selalu akan menjangkit kepada masyarakat yang terkait dengan DBD.
“Kalau dilihat dari karakteristik masyarakat, di Kecamatan Carita ini masih sangat minim sekali dengan kebersihan lingkungan. Itu yang masih perlu dipikirkan secara bersama-sama karena memang PR kita semua,” katanya
Kemarin juga di dalam musyawarah desa masuk dalam pembahasan agar masalah sampah ini bisa diangkut oleh pihak ketiga maupun oleh Dinas Lingkungan Hidup.
Sampah diambil dari rumah tangga dengan kondisi sudah dipilah antara sampah organik dan non organik.
“Selain fogging dalam penanganan DBD ini kita ada grup kader Jumantik. Para kader Jumantik ini setiap hari melakukan kunjungan ke rumah warga untuk bersama-sama melaksanakan PSN,” katanya.
Ketua Komunitas Peduli Pariwisata Carita (KPPC), Franky, berpikir bahwa DBD itu kayak wabah yang bisa ditularkan terhadap orang lain.
“Sehingga ini menjadi semacam momok menakutkan, nah di KPPC itu ada istilah Selasa Bersih, kalau hotel dan restoran sih mereka sudah punya SOP sendiri. Tapi di lingkungan hotel itu kan ada masyarakat sipil,” katanya.
Oleh karenanya, diungkapkan Franky, muncul inisiasi melaksanakan fogging.
“Dengan tujuan agar jangan sampai orang datang ke Carita, yaitu para tamu baik domestik maupun mancanegara, Jabodetabek dan sebagainya pulang bawa kesan jelek, saya kena DBD di Carita,” katanya.
Franky tidak mengharapkan adanya wisatawan kena DBD setelah liburan di Cerita.
“Itu yang saya tidak berharap ada di Carita. Makanya saya bermohon ke Muspika, kepada ibu Kapus, bahwa harus segera fogging,” katanya.
PSN mesti dilakukan, sehingga ini bukan hanya sekali gitu, tapi bisa dua sampai tiga kali.
“Makanya kita kerja sama dengan beliau-beliau, pengen kita serentak di Kecamatan Carita. Dan saya mengajak kepada masyarakat agar menjaga kesehatan kondisi tubuh, jaga lingkungannya, jaga masyarakat Carita supaya Carita bisa bersih nyaman dan sehat,” katanya.
Kapolsek Carita, Iptu Turip, sangat mendukung kegiatan ini.
“Karena bagi kami, kesehatan masyarakat itu terpenting. Untuk itu butuh upaya bersama menjaga kebersihan agar jangan sampai nyamuk Aedes Aegypti berkembang,” katanya. (*)
Editor: Agus Priwandono











