CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Warga Lingkungan Cisuru RT 3 RW 6 Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon terpaksa kembali mencari air di sumur-sumur resapan dengan menempuh jarak sejauh satu kilometer.
Hal itu terjadi lantaran sumur bor yang selama ini dialirkan tersebut disetop oleh pemilik yang tak lain merupakan calon legislatif (Caleg) yang gagal duduk ke kursi DPRD Kota Cilegon pada Pemilu 2024.
Seorang warga setempat, Saptuah mengatakan, dirinya harus mencari air kembali lantaran aliran air sumur bor di rumahnya disetop oleh pemilik sumur bor.
“Di rumah gak ada air, karena distop airnya, semoga pemerintah bisa bikinin sumur bor jadi gak cape-cape lagi kita ngambil airnya,” katanya saat ditemui RADARBANTEN.CO.ID saat mengambil air di sumur resapan, Selasa 12 Maret 2024.
Warga lainnya, Buki mengatakan, penyetopan aliran air di wilayahnya itu terjadi tiga hari setelah Pemilu pada 14 Februari 2024 lalu. “Karena dia (mantan caleg-red) minta 100 suara dari kampung ini, tapi tidak nyampe hanya dapet 60-an suara dari 140 jiwa. Sehingga dilakukan penyetopan aliran air tiga hari setelah pemilu,” terangnya.
Dirinya juga mengungkapkan, bahwa penyaluran air tersebut sudah berjalan selama empat tahun lamanya, dan warga hanya membayar Rp10 ribu per kubikasi.
“Jadi kita bayar per kubik nya Rp 10 ribu, karena mungkin itu juga buat bayar listrik setiap bulannya, itu juga sudah berjalan sebelum dia nyaleg, tapi karena nyaleg dia minta seperti itu,” katanya.
Sementara itu, pemilik sumur bor yang merupakan mantan Caleg DPRD dari PKS, Sumedi Madasik membenarkan adanya biaya yang dibebankan ke masyarakat sebesar Rp 10 ribu per kubik yang mana hal tersebut sudah berjalan selama empat tahun.
“Jadi memang ada biaya sebesar Rp 10 ribu per kubik. Itu juga Rp 5 ribu buat dana masyarakat seperti perbaikan dan sebagainya dan Rp 5 ribu lagi buat memenuhi kebutuhan listrik,” katanya.
Namun kata dia, selama ini biaya yang dibebankan ke masyarakat itu tidak menutupi untuk pembayaran listrik setiap bulannya. Sehingga dirinya harus mensubsidi sampai Rp 2 juta setiap bulannya selama empat tahun.
Dengan bantuan tersebut, dirinya pun mengharapakan khususnya ke Lingkungan Cisuru tersebut agar memberikan dukungan suara kepada dirinya yang maju dalam kontestasi Pileg pada Pemilu lalu.
“Saya berharap wajar dong karena selama ini juga kita bantu subsidi, dan mintanya saya itu tidak besar kalaupun tidak 100 persen minimal 70 persen. Tapi ini hanya kisaran 45 persen dari 140 DPT,” katanya.
“Padahal setiap bulan itu saya harus mensubsidi Rp 2 juta untuk bayar listrik untuk pengaliran air tersebut. Secara kebetulan kemarin saya habis nyaleg, dan kami sudah tidak kuat lagi untuk mensubsidi biaya tersebut,” sambungnya.
Lebih lanjut, dirinya menyampaikan, lantaran sudah tidak mampu untuk mensubsidi tersebut, pihaknya memanggil dua tokoh Lingkungan Cisuru untuk membahas terkait kelanjutan pengaliran air bersih ke masyarakat.
“Pada tanggal 18 Februari itu, saya panggil 2 tokoh dari Cisuru untuk membahas kelanjutan pengaliran air ke warga, dengan harapan untuk biaya listrik full ditanggung oleh masyarakat Cisuru karena saya sudah tidak kuat lagi untuk mensubsidi,” terangnya.
Namun kata dia, hingga saat ini belum adanya keputusan. Sehingga dirinya berinisiatif menutup sementara bukan memutus atau memotong aliran air tersebut.
“Jadi supaya ada solusi tapi hingga detik ini belum ada solusi, terkait kenaikan biaya ataupun beban pembayaran listrik setiap bulannya,” tukasnya. (*)
Reporter: Raju
Editor: Abdul Rozak











