PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – BPBD Provinsi Banten mengedukasi masyarakat di selatan Kabupaten Pandeglang dalam menghadapi bencana banjir dan bencana gempa bumi Megathrust. Edukasi diberikan BPBD Banten kegiatan gladi simulasi menghadapi bencana banjir dan gempa bumi yang bertempat di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang Riza Ahmad Kurniawan mengatakan, waktu kemarin pada hari Selasa dan Rabu, 26-27 Agustus 2024, BPBD Provinsi Banten mengadakan gladi kesiapan dalam menghadapi bencana bentuknya apel dan simulasi yang lokasinya di Kecamatan Patia.
“Kami dari BPBD Kabupaten Pandeglang di daerah mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada BPBD Provinsi Banten,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat, 30 Agustus 2024.
Kegiatan dilakukan oleh BPBD, adalah salah satu upaya mitigasi bencana. Bahwa Kabupaten Pandeglang ini, termasuk kabupaten mempunyai resiko tinggi bencana, baik itu banjir, gempa, longsor dan bencana-bencana yang lain.
“Oleh karena itu dengan simulasi dan apel kesiapsiagaan ini, bisa mendorong dan mempersiapkan, seluruh stakeholder dan masyarakat itu bisa siap siaga dalam menghadapi kebencanaan. Karena namanya bencana bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, akan tetapi termasuk peran serta masyarakat, dalam upaya mitigasi nonstruktural,” katanya.
Akan tetapi, Riza menjelaskan, untuk masyarakat tentunya harus dibekali dengan edukasi dan pemahaman mengenai kebencanaan.
“Nah itu salah satu tujuan dari kegiatan BPBD Provinsi Banten mengadakan kegiatan simulasi bencana banjir dan gempa bumi,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengatakan, BPBD Banten melaksanakan gladi simulasi, simulasi dengan tema paling tidak minimal dua kejadian.
“Yaitu potensi banjir dan potensi gempa bumi Megathurst. Kita harapkan ini sebenarnya meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam rangka mitigasi non struktural,” katanya.
Sehingga masyarakat mempunyai kesiapsiagaan masyarakat jika terjadi. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi.
“Sehingga masyarakat sudah siap menghadapi hal tersebut. Salah satu kesiapsiagaan dilakukan oleh pemerintah adalah, seperti hari ini kita melakukan simulasi, semua stakeholder, semua unsur kita libatkan,” katanya.
Terutama stakeholder yang ada di Kabupaten Pandeglang. Dari Forkopimda, Forkopimcam, kemudian juga unsur masyarakat yang lainnya, kemudian instansi vertikal lain ikut di hadirkan.
“Agar mereka memahami dan menyampaikan informasi yang kita terima dan benar-benar valid, itu tersampaikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak termakan isi hoax, sekali lagi bahwa isu Megathrust itu bukan prediksi tetapi potensi,” katanya.
Artinya, bencana itu tidak tahu kapan itu akan terjadi dan dimana dan berapa besarnya tidak tahu.
“Yang harus kita lakukan adalah kesiapsiagaan dalam rangka mitigasi mengurangi risiko terjadinya korban jiwa,” katanya.
Nana mengimbau, kepada warga Banten agar tidak mudah termakan isu hoax soal prediksi gempa bumi prediksi Megathrust.
“Bahwa itu bukan prediksi tapi itu hanya potensi karena memang dari dulu daerah kita termasuk daerah ring of fire (Cincin Api). Sehingga potensi gempa bumi itu ada tapi kapan itu akan terjadinya itu tidak diketahui,” katanya.
Makanya, Nana mengungkapkan, yang harus dipersiapkan adalah kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan dini.
“Agar kita bisa melakukan evakuasi secara mandiri sebelum ada evakuasi dari orang lain,” katanya.
Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan, kalau kegiatan simulasi ini agenda rutin dari Pemprov Banten.
“Kebetulan kita masuk di tanggap darurat kekeringan dan juga mencoba simulasi menghadapi bencana banjir,” katanya.
Lebih lanjut Bupati mengatakan, Kabupaten Pandeglang termasuk daerah rawan bencana, banjir, banjir rob, kebakaran. Lalu tsunami pernah terjadi, gempa bumi.
“Karena kita punya tiga gunung walaupun tidak aktif tapi kita beririsan dengan Lampung ada Gunung Anak Krakatau yang masih batuk-batuk. Jadi kita harapkan Pj Gubenur bisa mengedukasi tidak hanya sipatnya farsial tetapi lebih komplit lagi lebih holistik,” katanya.
Bupati Irna menurutkan, dalam kegiatan simulasi turut melibatkan instansi vertikal lainnya, Kapolres, Kapolseknya dihadirkan, Dandim, dan Danramilnya di hadirkan.
“Dihadirkan supaya nanti bisa bersinergi di lapangan dengan camat kami juga. Dengan begitu bisa membangun sinergi, untuk menyampaikan juga ke sekolah-sekolah, karena tidak mungkin kalau tidak gandengan tangan berkolaborasi,” katanya.
Sehingga semua stakeholder masuk, warga juga masuk. Kemudian tokoh masyarakat, tokoh agama, swata masuk, masyarakat juga masuk.
“Yang kami harapkan sekarang masuk ke sekolah-sekolah dulu, ke majelis-majelis, ke pondok pesantren. Menyampaikan bagaimana memitigasi risiko ketika terjadi bencana,” katanya.
Adapun terkait isu Megatrhrust, Bupati meminta kepada masyarakat masyarakat tetap tenang.
“Untuk membantu membuat tenang Pj Gubernur melalui Kalaknya BPBD mengundang juga instansi vertikal lainnya tadi ada BMKG ada Basarnas, semuanya untuk menenangkan masyarakat. Tetapi kan tidak cukup tenang, mereka harus siapkan bagaimana memitigasi risiko bencana, atau masyarakat ada yang belum tahu ada jalur-jalur evakuasi,” katanya.
Selain belum tahu jalur evakuasi, masyarakat juga ada yang belum tahu jalur evakuasi sementara dan evakuasi permanen.
“Kami harus ingatkan terus karena kita kan mobile bermasyarakat, ada yang keluar (pindah) dari Pandeglang dan ada dari luar masuk (pindah) ke Pandeglang. Jadi kita akan terus membangun kolaborasi agar kita bisa yakin tidak tahu prediksinya kapan, hanya Allah yang tahu,” katanya.
Soal bencana Megathrust, negara hebatpun belum punya alatnya. Tapi potensi ada.
“Nah pemerintah harus sampaikan, dengan begitu mereka bisa membaca alam, ciri-ciri baunya tsunami itu seperti apa sih. Kita harus sampaikan, dalam berupa pamplet atau buku pedoman untuk kami sampaikan ke sekolah-sekolah, setiap Senin kan ada upacara terus ke majelis ta’lim, kan setiap minggu ada jadwalnya,” katanya.
Kemudian juga ke pondok pesantren juga begitu ada kuliah subuh dan sebagainya. Itu bisa dimasukan dalam materi selama 10-15 menit. Atau ada acara -acara agenda swasta, BUMN,bisa kolaborasi bisa masuk 10-15 menit menyampaikan edukasi sosialisasi mitigasi bencana.
“Sehingga masyarakat dan swasta juga punya tanggungjawab yang sama. Dan masyarakat Pandeglang tidak harus takut tetapi harus siap, menghadapi kebencanaan apapun dengan begitu mengurangi risiko jatuh korban dan sebagainya,” katanya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











