SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dibalik meriahnya event Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut), ada keputusan kontroversial pada cabang olah raga (cabor) Muaythai yang dipertandingkan. Kemenangan atlet Muaythai Banten, Dwi Sukarno yang turun di nomor elite 63,5 kilogram putra itu dianulir karena dituduh sengaja menyerang alat kemaluan lawannya.
Jumat (20/9), penutupan event olahraga nasional empat tahunan itu digelar secara meriah. Pentupan PON tahun ini digelar Stadion Utama Sumut, Deli Serdang, Sumut. Rombongan atlet perwakilan masing-masing provinsi di Indonesia telah pulang ke kampung halamannya. Kepulangan para atlet ini membawa kenangan yang menarik untuk diceritakan. Termasuk atlet asal Banten.
Seperti cerita atlet Muaythai Banten, Dwi Sukarno. Dia gagal ke babak final. Dwi Sukarno diputuskan kalah dari atlet Jawa Tengah, Irvan Aji Maulana. Kekalahan Dwi Sukarno diputuskan oleh Dewan Hakim Panitia Besar (PB) PON, bukan dewan juri. Irvan pun lolos ke babak final.
Pertandingan perebutan tiket final antara Dwi Sukarno dan Irvan memang diwarnai insiden. Irvan Aji terjatuh dan tidak mampu melanjutkan pertandingan usai menerima tendangan telak Dwi Sukarno di ronde kedua. Wasit menghentikan pertandingan dan memberi kesempatan tim medis memeriksa keadaan Irvan.
Tim medis mengungkapkan Irvan merasakan sakit di bagian kemaluan akibat tendangan tersebut. Diduga korban tidak memakai metal groin protector sesuai standar internasional IFMA. Irvan dilarikan ke rumah sakit. Sementara atlet Banten itu diputuskan dewan juri keluar sebagai pemenang. Dwi Sukarno diyakini tidak sengaja menendang bagian intim Irvan.
Namun, pelatih tim Muaythai Jawa Tengah, Yusuf Susilo, bersikukuh menolak keputusan tersebut. Dia pun melancarkan gugatan ke PB Cabor Muaythai. Yusuf Susilo berpendapat Dwi Sukarno seharusnya disanksi, bukan diberi kemenangan karena sengaja menendang kemaluan Irvan.

Masih tidak menyerah, tim Muaythai Jawa Tengah melanjutkan protesnya ke PB PON. Di sinilah, keputusan berubah 180 derajat. PB PON memutuskan atlet Jawa Tengah Irvan, Aji Maulana lolos ke partai final Muaythai.
Manager tim Muaythai Banten, Diska Juliani membeberkan fakta-fakta selama pertandingan berlangsung. Dalam rekaman video berdurasi 53 detik, Diska Juliani menunjukkan detik-detik Dwi Sukarno menyerang Irvan. Dalam tayangan lambat atau slow motion, Dwi Sukarno terlihat menendang paha kiri Irvan yang posisinya di depan. Namun, Irvan menarik mundur kaki kirinya, sehingga tendangan Dwi Sukarno mengenai kelamin atlet asal Jawa Tengah itu.
“Di lihat dari video yang sudah di slow motion terlihat lawan posisi badan menurun dan kaki kiri di tarik mundur merupakan teknik yang salah dalam muaythai,” kata Diska kepada Radar Banten, Jumat (20/9).
“PB PON menganggapnya itu kena kemaluan dan harus kalah, padahal faktanya itu bukan sebuah kesengajaan, dan PB PON memberikan keputusan begitu saja tanpa melihat dan tidak sesuai dengan regulasi IFMA” sambung Diska.
Sebelum insiden dalam pertandingan yang digelar di Bale Meuseurah Aceh (BMA), Banda Aceh, Senin (9/9) lalu, Dwi Sukarno terlihat mendominasi. Beberapa tendangan berhasil mengenai Irvan. Jika hitung-hitungan, Dwi Sukarno sudah pasti menang jauh dari lawannya.
Sementara itu, Pelatih tim Muaythai Banten, Fadly Anwar mengatakan, Dwi Sukarno merupakan atlet bertaraf internasional. Atletnya ini pun pernah berlatih di Thailand. Dwi Sukarno juga selalu membawa pulang emas dalam setiap pertandingan. Jadi, tidak mungkin Dwi Sukarno berbuat curang untuk menang. “Kalau dalam pertandingan sudah mendominasi, untuk apa Dwi bermain curang?. Puluhan pertandingan yang dijalaninya tidak pernah melakukan kecurangan. Dwi ini atlet bertaraf internasional, tentu mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” bela Fadly.
Dwi Sukarno kali ini harus puas dengan membawa pulang medali perunggu pada PON XXI Aceh-Sumut. Ini sejarah bagi Dwi Sukarno. Untuk kali pertama Dwi Sukarno meraih perunggu. Tim Muaythai Banten juga harus menerima pil pahit ini demi menjunjung tinggi nilai sportifitas. “Kami menghargai setiap keputusan yang diberikan oleh PB PON, walaupun hasilnya tidak sesuai harapan. Kami tetap junjung tinggi sportifitas,” ungkap Fadly.
Dia berpesan agar media tidak menyudutkan Dwi Sukarno yang dapat menggiring opini negatif.”Permasalahan sudah selesai, kami sudah menerima semuanya. Kami mohon untuk seluruh pihak tidak menyudutkan Dwi Sukarno dengan berita-berita yang tidak sesuai faktanya. Kini Dwi menargetkan lolos Sea Games 2025 mendatang,” paparnya.
TIDAK BERNIAT
Atlet Muaythai Banten, Dwi Sukarno menegaskan, tidak pernah berniat mencederai dengan menendang bagian sensitif lawannya. Dia meminta isu yang beredar tentang dirinya sengaja mencederai lawannya agar diakhiri.
Selama menjadi atlet profesional, Dwi menegaskan, ada larangan menendang bagian intim lawan dan hal itu merupakan tindakan tidak sportif. “Saya sudah bertahun tahun menjadi atlet profesional dan tentunya saya tahu aturan yang ada. Saya tidak ada niat untuk melakukan hal ini,” kata Dwi.
Kata dia, fokusnya saat bertanding hanya meraih kemenangan dengan cara sportif. “Bagi saya, ini merupakan ketidak sengajaan, karena dalam olahraga beladiri ini bisa terjadi karena full kontak saat berlaga,” tandasnya.
Kini, atlet berjuluk Dwi Superboy ini bertekad membuktikan diri sebagai atlet Muaythai terbaik yang akan mengharumkan dan menjadi kebanggaan Indonesia. “Saya harus bisa mempersembahkan medali untuk mengharumkan nama Banten dan Indonesia. Apalagi, berdasarkan pembicaraan, saya kabarnya akan dipanggil untuk mengikuti seleksi untuk timnas muaythai untuk SEA Games 2025 di Thailand,” kata Dwi.
Dia akan lebih berkonsentrasi menjalani pelatihan serta memperbaiki diri agar bisa berlaga di Thailand.”Mohon doanya. Saya juga meminta yang sudah lewat jangan dibesar-besarkan lagi. Mari kita bersatu untuk memajukan Muaythai,” tutupnya.
Reporter: Eko Fajar











