JAKARTA,RADARBANTEN.CO.ID – Dua tokoh asal Provinsi Banten yakni Yandri Susanto dan Iftitah Suryanagara masuk ke dalam jajaran Kabinet Merah Putih yang dimumkan tadi malam 20 Oktober 2024, pukul 21.00 WIB di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto. Pengumuman menteri ini didampingi Wakilnya Gibran Rakabuming Raka dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Yandri diumumkan menjadi Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Sementara Iftitah menjadi Menteri Transmigrasi.
Seperti diketahui Yandri Susanto merupakan tokoh di Provinsi Banten karena dua kali duduk menjadi anggota DPR RI dari dapil Banten II yakni Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon dari Partai Amanat Nasional (PAN). Yandri juga memiliki pondok pesantren Alquran Bai Mahdi Soleh Ma’mun di Pabuaran Kabupaten Serang.
Lahir pada 7 November 1974, Yandri memiliki karier politik yang panjang dan terbilang sukses. Ia pertama kali menjabat sebagai anggota DPR-RI pada tahun 2012, dan hingga kini telah mewakili Dapil Lampung I serta Banten II dalam tiga periode berbeda. Yandri Susanto menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengahnya di Bengkulu. Setelah itu, dia meraih gelar sarjana di bidang Peternakan dari Universitas Bengkulu pada tahun 1998. Tak berhenti di situ, Yandri kemudian melanjutkan pendidikan S22 di Universitas KH. Abdul Chalim dan lulus pada tahun 2024.
Karir politik Yandri dimulai pada tahun 2004 ketika dia mulai aktif di Barisan Muda (BM) PAN sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Karir politiknya terus berlanjut, dia dipercaya menjadi Sekjen BM PAN pada 2006 hingga 2011.
Pada periode 2011-2016, Yandri menjabat sebagai Ketua Umum BM PAN yang menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran pemuda di partai. Selama masa tersebut dia juga aktif di KNPI sebagai Ketua Bidang Pariwisata.
Di kancah politik nasional, Yandri terpilih menjadi anggota DPR RI pada tahun 2012. Saat itu dia mewakili Dapil Lampung I sebelum kemudian mewakili Dapil Banten II sejak 2014. Pengalaman Yandri di DPR sangat luas, terutama dalam bidang keagamaan, sosial, dan kemanusiaan ketika ia menjabat sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI dari 2019 hingga 2022.
Karir politik Yandri Susanto semakin berkembang ketika ia diangkat menjadi Wakil Ketua MPR RI menggantikan Zulkifli Hasan yang saat itu dilantik menjadi Menteri Perdagangan.
Selain di bidang politik, Yandri juga memiliki pengalaman di sektor swasta. Dia pernah menjadi Tenaga Ahli DPR-RI/MPR-RI pada 2004 serta menjabat sebagai Direktur di beberapa perusahaan seperti PT Solusi Plus dan PT Suplai Plus pada periode 2004-2012.
Sementara itu, Iftitah memiliki nama lengkap, Letnan Kolonel (Letkol) TNI AD Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. Dia merupakan lulusan SMP Negeri 1 Pandeglang tahun 1992.
Iif, sapaan akrab Letnan Kolonel (Letkol) TNI AD Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, lahir pada 10 Maret 1977. Pria yang akrab dipanggil Iif ini merupakan seorang pengusaha, investor, konsultan, dan veteran TNI-AD. Ia adalah lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1999 yang meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa dari Presiden Republik Indonesia. Iif dikenal sebagai pakar di bidang kavaleri. Setelah 20 tahun berdinas di dunia militer, ia memutuskan pensiun dini ketika reformasi TNI mengamanatkan militer untuk tidak terlibat dalam kegiatan politik dan bisnis.
Pasca-pensiun, Iif mengakuisisi beberapa perusahaan investasi dan konsultan yang ia rintis bersama para mitra bisnis. Selain aktif di dunia bisnis, Iif juga seorang praktisi, penulis, dan pengajar di berbagai institusi pendidikan. Keahlian dan pengalamannya di bidang investasi, ditunjang oleh pengetahuannya dalam strategi dan geopolitik, pertahanan dan intelijen, serta keamanan nasional dan regional, menjadikannya sosok yang berpengaruh di berbagai sektor.
Karir militer Iif Sulaiman dimulai sebagai Komandan Peleton di Yonkav 8-Tank/Kostrad, sebelum kemudian menjabat sebagai Perwira Seksi Operasi. Ia kemudian dipindahkan ke Aceh untuk membentuk satuan baru, Yonkav 11/Kodam Iskandar Muda.
Selama tiga tahun bertugas di Aceh, Iif lebih banyak menghabiskan waktu di medan tempur, terlibat dalam Operasi Rencong pada tahun 2003 dan Operasi Pemulihan Keamanan pada tahun 2004. Setelah tsunami melanda, Iif dipercaya mengendalikan Operasi Bantuan Kemanusiaan pada tahun 2005, yang membawa berkah perdamaian bagi masyarakat Aceh.
Pada tahun 2006, Iif terpilih sebagai penjaga perdamaian di Lebanon, bergabung dengan Kontingen Garuda-XXIII A/UNIFIL. Ia juga diangkat sebagai perwakilan UNIFIL dan bersama perwira dari India dan Polandia, ia membawa bendera PBB dalam peringatan Hari Nasional Italia pada tahun 2007.
Setelah kembali dari Lebanon, Iif berperan penting dalam membidani dan membangun Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP TNI) di Sentul, Bogor. Pada tahun 2010, Mabes TNI menugaskannya sebagai Instruktur Internasional pertama di bidang Misi Pemeliharaan Perdamaian. Ia melatih 35 perwira dari 11 negara bersama instruktur dari Jerman dan Australia di New Castle, Australia.
Editor: Aditya











